Thursday, July 19, 2007

Harta Karun Itu Bernama Candi Borobudur

Harta Karun Itu Bernama Candi Borobudur
Oleh ISMAIL KUSMAYADI

GEGERNYA peristiwa penggalian situs Batutulis di Bogor, terutama karena alasan-alasan irasional, telah memberikan renungan sangat penting pada masyarakat dan lembaga-lembaga yang berwenang melindungi benda-benda cagar budaya, untuk menyadari kembali betapa pentingnya memahami, melindungi, dan memelihara artefak-artefak sejarah tersebut. Artefak yang telah melahirkan generasi yang kesekian yang ada sekarang ini. Penelusuran tentang jejak-jejak peradab an leluhur bangsa Indonesia perlu terus dilakukan sebagai temuan sejarah yang akan tertanam dalam hati seluruh masyarakat Indonesia.

Tentunya perusakan benda-benda sejarah itu bukan hanya terjadi pada saat ini. Banyak orang yang tidak bertanggung jawab, serakah, dan tidak berbudaya mencoba merusak benda-benda tersebut dengan alasan sesaat, demi uang, jimat, peruntungan, dan hal-hal mistik lainnya. Namun di sisi lain ada juga hal yang menggembirakan, seperti ditemukannya beberapa situs baru, khususnya di Jawa Barat, berupa candi di daerah Batujaya Karawang dan Bojongmenje Rancaekek, sehingga tidak menutup kemungkinan di daerah-daerah Jawa Barat lainnya juga masih terpendam “harta karun” yang tak ternilai. Bahkan diduga situs-situs tersebut masih saling berhubungan, terutama dikaitkan dengan kejayaan kerajaan Pajajaran dahulu. Tentunya hal ini pun harus mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk merekonstruksi kembali bangunan bersejarah itu.

Untuk sekadar mengingatkan kembali bagaimana pentingnya kita menghargai sejarah dan benda-benda peninggalan berupa artefak-artefak, candi, prasasti, atau yang lainnya, marilah kita melihat bagaimana Candi Borobudur direkonstruksi sehingga menjadi bangunan yang megah dan termasuk tujuh keajaiban dunia. Untuk mengawalinya kita perlu melihat bagaimana nama dan Candi Borobudur diketahui.

Hutan belakar

Sekira tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar. Kemudian pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.

Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada nama tempat. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit. Sedangkan Prof. JG. De Casparis mendasarkan pada Prasasti Karang Tengah yang menyebutkan tahun pendirian bangunan ini, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824 Masehi), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam prasasti didapatlah nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang bagi arwah-arwah leluhurnya.

Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.

Dalam pelajaran sejarah, disebutkan bahwa candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Sedangkan yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.

Sebelum dipugar, Candi Borobudur berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan sekarang ini. Ketika kita mengunjungi Borobudur dan menikmati keindahan alam sekitarnya dari atas puncak candi, kadang kita tidak pernah berpikir tentang siapa yang berjasa membangun kembali Candi Borobudur menjadi bangunan yang megah dan menjadi kekayaan bangsa Indonesia ini.

Pemugaran selanjutnya, setelah oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann, dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang. Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana. Oleh sebab itu, para pemugar harus memiliki sekelumit sejarah agama ini di Indonesia. Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalur. 

Materi candi

Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Borobudur mirip bangunan piramida Cheops di Gizeh Mesir. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jadi kalau rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Sedangkan, tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir.

Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa.

Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Dan itulah salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia.

Melihat kemegahan bangunan Candi Borobudur saat ini dan candi-candi lainnya di Indonesia telah memberikan pengetahuan yang besar tentang peradaban bangsa Indonesia. Berbagai ilmu pengetahuan terlibat dalam usaha rekonstruksi Candi Borobudur yang dilakukan oleh Teodhorus van Erp. Kita patut menghargai usaha-usahanya mengingat berbagai kendala dan kesulitan yang dihadapi dalam membangun kembali candi ini.

Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan? Mengingat pada masa itu belum ada gambar biru (blue print), lalu dengan sarana apakah mereka itu kalau hendak merundingkan langkah-langkah pengerjaan yang harus dilakukan, dalam hal gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? Dan masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmu pengetahuan, terutama tentang ditemukannya ruang pada stupa induk candi.

Harta karun

Pemugaran selanjutnya dilakukan pada tahun 1973-1983, selang 70 tahun dari pemugaran yang dilakukan van Erp. Pemugaran ini dimaksudkan tiada lain sebagai upaya melestarikan budaya yang tak ternilai harganya. Inilah “harta karun” yang sesungguhnya tak bisa dihargai dengan uang apalagi dijual untuk membayar utang. Kesadaran masyarakat untuk ikut mengamankan bangunan candi sangat diharapkan termasuk juga dari para wisatawan.

Penggalian, penelitian, dan rencana pemugaran terhadap candi-candi atau benda-benda bersejarah lainnya yang baru-baru ini ditemukan tentunya membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Pemugaran bangunan budaya dan kepurbakalaan tidak semudah pembangunan gedung modern. Setiap bentuk bangunan budaya memiliki makna yang khusus dan hal ini tidak dapat diabaikan di dalam pemugaran bangunan kuno tersebut. Oleh sebab itu butuh dukungan dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Upaya membangun kembali sebuah simbol-simbol peradaban yang pernah hilang berarti semakin membuka mata-hati kita tentang sejarah peradaban manusia Indonesia yang kaya dengan ilmu pengetahuan dan budaya. Dengan demikian, kita akan menjadi manusia berbudaya yang mampu menghargai budayanya sendiri sebagai bentuk jati diri dan identitas bangsa yang mandiri.

Akhirnya, kita harus membangkitkan kembali gairah menghargai benda-benda cagar budaya yang bukan hanya menjadi kekayaan masyarakat dan bangsa, melainkan juga menjadi kekayaan ilmu pengetahuan yang akan terus mengungkap fakta-fakta sejarah itu. Menikmati keindahan dan menjaga kelestariannya merupakan salah satu bentuk kepedulian yang sangat berarti. Tentunya peran lembaga yang berkaitan dengan perlindungan benda-benda cagar budaya perlu ditingkatkan dengan memberikan pemahaman, pengertian dan sosialisasi tentang pentingnya menjaga dan melestarikan benda-benda tersebut. Perlindungan hukum pun harus ditegakkan secara konsisten sehingga tidak terjadi lagi kepincangan-kepincangan hukum yang menyisakan rasa ketidakadilan bagi masyarakat, seperti halnya kasus peledakan Candi Borobudur pada 1983.*** 

Penulis bekerja sebagai editor, tinggal di Bandung

 

Posted by Fahmi at 13:28:12 | Permalink | Comments (1) »

Wednesday, August 16, 2006

Hidup Penuh Kekaguman

Bayangkan sebuah peristiwa yang biasa dialami seorang anak kecil. Suatu ketika anak itu melihat seekor ulat bulu yang meliuk-liuk menuju tempat daun segar makanannya. Mata anak itu membelalak. Ia mengulurkan tangannya dan berusaha menyentuh punggung ulat berbulu tersebut dengan jarinya. Namun, tiba-tiba ia tersentak. Jarinya terasa gatal. Ia mencoba sekali lagi, dan kali ini seputar jari telunjuknya terasa tersengat. Ulat itu melingkar di jari telunjuknya dan dari enam belas kaki ulat tadi terasa isapan-isapan. Anak itu tertawa keras sambil mengamati sebagian ciptaan Tuhan yang tak pernah dibayangkannya. Ia terpesona, takjub, dan dipenuhi rasa kagum.

Hal-hal seperti ini sering dialami seorang anak kecil: Segala sesuatu tampak menakjubkan. Kalau ia melihat seekor ulat yang gemuk berubah menjadi kupu-kupu yang berwarna kuning cerah ia akan terpukau, terpesona, dan seolah-olah terhisap.

Kemudian terjadilah perubahan dalam hidup. Anak itu bertambah besar, berkembang menjadi dewasa, dan barangkali sekarang menginjak beberapa ulat yang dulu ia kagumi. Inilah yang sering kita alami. Keajaiban kupu-kupu tak lagi menarik perhatian kita. Segalanya tampak biasa-biasa saja. Kalau itu yang terjadi, kita perlu waspada karena sesuatu yang hakiki mungkin telah hilang dari diri kita.

Mengapa ”penglihatan” kita berbeda dari anak-anak? Ada tiga hal yang mungkin terjadi. Pertama, berbeda dari anak-anak, kita cenderung melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Kita pun sering mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Anda mungkin sarapan pagi sambil membaca koran dan menonton televisi. Anda menyetir mobil sambil menjawab telepon. Anda berbicara dengan bawahan sambil mengetik di komputer.

Akibatnya Anda tak sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi. Anda jarang benar-benar ada di sini saat ini untuk menikmati dan menyadari segala sesuatu. Lebih parah lagi, Anda cenderung digerakkan dari luar, bukannya dari dalam diri Anda sendiri.

Untuk bisa menikmati keajaiban Anda justru harus memperlambat irama hidup Anda. Jangan lupa, manusia bukanlah human doing yang terus menerus melakukan pekerjaan. Kita adalah human being. Ini hanya akan terjadi kalau kita hidup dengan irama yang lebih pelan. Hidup seperti ini jauh lebih efektif, lebih berseni sekaligus lebih kaya. Hidup lebih pelan memberikan kita waktu untuk berhenti, berpikir, merenung, dan memutuskan sesuatu dengan penuh kesadaran. Kesadaran inilah pintu untuk melihat keajaiban.

Kedua, kita kurang menghargai hal-hal kecil. Kita cenderung memikirkan hal-hal yang kita anggap ”besar.” Padahal alam semesta ini didesain dari hal-hal kecil yang sangat rinci dan kompleks. Eknath Easwaran, seorang guru meditasi, mengatakan bahwa keajaiban Tuhan memiliki dimensi yang unik, yaitu ”lebih kecil dari yang paling kecil dan lebih besar dari yang paling besar.” Coba perhatikan serangga dan hewan-hewan kecil lainnya. Lihatlah jutaan planet dan galaksi di alam raya. Coba perhatikan susunan tubuh kita sendiri. Anda akan merasa takjub dan kagum luar biasa.

Kalau kita menghargai setiap hal yang kita jumpai kita akan menikmati keajaiban yang tiada habis-habisnya. Anda akan senantiasa mendengar suara Tuhan pada setiap nafas yang berhembus, pada desir angin yang berbisik.

Ketiga, dan ini lebih serius lagi, anak-anak mampu menangkap keindahan karena mereka masih jernih, otentik, dan bersih. Mereka masih sangat dekat dengan jiwa sejati kita.

Sewaktu kecil kita betul-betul merupakan makhluk spiritual. Pada saat itu kebutuhan jasmani kita amat terbatas. Kita hanya mengonsumsi benda-benda sebatas kebutuhan kita. Namun, semakin dewasa kebutuhan kita semakin banyak. Yang lebih parah lagi, kita telah mencampuradukkan kebutuhan dengan keinginan. Kebutuhan kita sebetulnya terbatas, tapi keinginan tak ada batasnya. Bahkan, setelah sebuah keinginan terpenuhi, keinginan yang lain pun segera bermunculan.

Masalahnya, semakin kita memperturutkan keinginan, semakin jauhlah kita dari diri kita yang asli. Keinginan selalu mengajak kita meninggalkan diri sejati menuju ego. Padahal ego inilah akar dari segala permasalahan yang kita hadapi. Semakin kita mendekati ego, semakin kita akan kehilangan kontak dengan jiwa sejati kita. Ini biasanya ditandai dengan keadaan depresi, mudah marah, masalah lambung, dan tekanan darah tinggi.

Satu-satunya cara untuk mengatasi hal itu adalah dengan kembali mendekati jiwa sejati kita. Inilah yang akan melahirkan ketentraman sejati. Diri sejati sebenarnya berada sangat dekat, bahkan lebih dekat dari tubuh kita sendiri. Inilah sebenarnya akar dari semua keberadaan kita. Di sini lah kita akan menemukan solusi dari setiap persoalan.

Kalau Anda mendekati diri sejati Anda, setiap momen akan terasa segar, indah, dan menakjubkan. Lebih dari itu, perasaan-perasaan takjub ini akan melahirkan satu hal: perasaan rindu untuk bertemu dengan Yang Maha Indah. Kita sadar sepenuhnya bahwa tak ada sesuatu pun yang diciptakan-Nya dengan sia-sia.

Kepemimpinan
Oleh: Arvan Pradiansyah, penulis buku Life is Beautiful e-mail: kepemimpinan@republika.co.id
faksimile: 021-7983623

Posted by Fahmi at 19:06:31 | Permalink | No Comments »

Orang Beragama atau Orang Baik?

Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupannya membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan, sehingga lelaki itu dapat beribadah dengan tenang.

Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita cantik. ”Masuklah ke dalam pondok,” katanya kepada wanita itu, ”Peluklah ia dan katakan ‘Apa yang akan kita lakukan sekarang’?”

Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang disarankan oleh si nenek. Lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari pondoknya.

Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi marah. ”Percuma saya memberi makan orang itu selama 20 tahun,” serunya. ”Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu, namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama.”

Apa yang menarik dari cerita diatas? Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dengan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang.

Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini. Anda pasti sudah sering mendengar cerita mengenai guru mengaji yang suka memperkosa muridnya. Seorang kawan yang rajin shalat lima waktu baru-baru ini di PHK dari kantornya karena memalsukan dokumen. Seorang kawan yang berjilbab rapih ternyata suka berselingkuh. Kawan yang lain sangat rajin ikut pengajian tapi tak henti-hentinya menyakiti orang lain. Adapula kawan yang berkali-kali menunaikan haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di kantornya.

Lantas dimana letak kesalahannya? Saya kira persoalan utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka. Dalam konsep mereka, beragama berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan melagukan (bukannya membaca) Alquran. Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama justru pada budi pekerti yang mulia.

Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian rupa menjadi kewajiban dan bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan hukum (outside-in), bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen (inside-out). Ini menjauhkan agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah sebuah cara hidup (way of life), apalagi cara berpikir (way of thinking).

Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan tertinggi manusia. Kita tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi karena kita lapar secara rohani. Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan batin yang tiada taranya. Kita beribadah karena rindu untuk menyelami jiwa sejati kita dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.

Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya bersekolah di London dulu. Kali ini berkaitan dengan polisi. Berbeda dengan di Indonesia, bertemu dengan polisi disana akan membuat perasaan kita aman dan tenteram. Bahkan masyarakat Inggris memanggil polisi dengan panggilan kesayangan: Bobby.

Suatu ketika dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang hilang. Kemungkinan tertinggal di dalam taksi. Ini tentu membuat saya agak panik, apalagi hal itu terjadi pada hari-hari pertama saya tinggal di London. Tapi setelah memblokir kartu kredit dan sebagainya, sayapun perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Yang menarik, beberapa hari kemudian, keluarga saya di Jakarta menerima surat dari kepolisian London yang menyatakan bahwa saya dapat mengambil dompet tersebut di kantor kepolisian setempat.

Ketika datang kesana, saya dilayani dengan ramah. Polisi memberikan dompet yang ternyata isinya masih lengkap. Ia juga memberikan kuitansi resmi berisi biaya yang harus saya bayar sekitar 2,5 pound. Saking gembiranya, saya memberikan selembar uang 5 pound sambil mengatakan, ”Ambil saja kembalinya.” Anehnya, si polisi hanya tersenyum dan memberikan uang kembalinya kepada saya seraya mengatakan bahwa itu bukan haknya. Sebelum saya pergi, ia bahkan meminta saya untuk mengecek dompet itu baik-baik seraya mengatakan bahwa kalau ada barang yang hilang ia bersedia membantu saya untuk menemukannya.

Hakekat keberagamaan sebetulnya adalah berbudi luhur. Karena itu orang yang ”beragama” seharusnya juga menjadi orang yang baik. Itu semua ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia.

Kepemimpinan
Oleh: Arvan Pradiansyah, direktur pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) & penulis buku Life is Beautiful
e-mail: arvan@ilm.co.id, kepemimpinan_probis@yahoo.com
faksimile: 021-7983623

Posted by Fahmi at 19:01:03 | Permalink | No Comments »

Wednesday, August 9, 2006

Tugimin, Sepeda Tua, dan Masjid Syuhada

Masjid Syuhada Jogjakarta didirikan awal 1950-an sebagai saksi hidup bagi para syuhada yang tewas selama revolusi kemerdekaan (1945-1949). Lokasinya yang strategis di kawasan Kota Baru memudahkan para pendatang untuk mengenalnya.

Pada zamannya Masjid Syuhada adalah bangunan arsitektur modern, mungkin yang termodern ketika itu di Indonesia. Hampir semua tokoh bangsa generasi awal yang Muslim pernah shalat Jumat di masjid ini, termasuk proklamator Soekarno-Hatta.

Dalam usianya yang lebih dari setengah abad, Masjid Syuhada telah turut memberikan pencerahan kepada sebagian anak bangsa yang pernah belajar di sana, baik di taman kanak-kanak (TK) ataupun di perguruan tinggi yang memang memakai nama masjid itu dan diselenggarakan di lingkungannya. TK-nya cukup terkenal, sekalipun kata orang sedikit terkesan komersial, sebagaimana halnya sekolah-sekolah lain di Indonesia, termasuk tentunya sebagian kecil sekolah yang dikelola Muhammadiyah.

Seorang yang cukup penting posisinya untuk melancarkan kegiatan masjid adalah laki-laki Tugimin Suroharjo (67), yang telah mengabdi (di sini istilah mengabdi, sungguh tepat) di sana sejak 1961, hampir setengah abad yang lalu. Tugasnya di samping mengurus masalah khatib Jumat dan mengantar surat, juga menarik sumbangan donatur, bayar listrik, air, dan telepon. Dia diberi 15 persen dari hasil donasi yang saban bulan terkumpul sekitar Rp 1 juta. Yang “dahsyat” adalah gaji bulanannya, yaitu Rp 95 ribu, entah sudah sejak tahun berapa pengurus mematok jumlah ini. Luar biasa bukan?

Sebagaimana halnya Asrori, si penjaja plastik dan racun tikus (lih Resonansi 9 Mei 2006), Tugimin adalah seorang anak bangsa yang tidak begitu peduli pada angka Rp 95 ribu itu, sebagaimana tidak pedulinya pengurus masjid untuk mempertimbangkannya kembali. Ketika saya tanya nomor telepon pengurus, Tugimin tidak hafal. Di wajahnya terbayang keikhlasan dalam mengabdi untuk kepentingan agama. Tidak terlintas dalam angannya agar santunan bulanannya itu dinaikkan menjadi Rp 200 ribu misalnya.

Tugimin menjalankan tugasnya dengan bantuan sebuah sepeda perempuan tua yang setia menyertainya ke manapun sang tuan bergerak untuk kepentingan masjid. Demikianlah tanggal-tanggal 19-20 Juni dia mencari saya minta kepastian apakah saya dapat mengisi khutbah Jumat akhir Juni ini. Saya tanyakan, “Mengapa takmir tidak kirim SMS saja untuk mengingatkan para khatib?”
Dijawab, “Agar lebih mantap.”

Mendengar jawaban ini, saya hanya berguman, “Masih ada saja manusia tipe ini, di tengah-tengah arus percaturan uang panas yang sering tidak kenal halal-haram ini.” Tentu Tugimin tidak peduli dengan itu semua, karena imbalan yang diterimanya jelas 100 persen halalan thaiyyiban.

Tetapi, Anda tak perlu larut dalam rasa iba terhadap nasib Tugimin. Dia adalah pensiunan pegawai daerah dengan penerimaan Rp 825 ribu per bulan. Istri satu, anak lima, cucu tujuh, dua bekerja pada perusahaan elektronik di Pulau Bintan. Dengan bangga Tugimin bercerita bahwa anaknya pada 2001 pernah memintanya berkunjung ke pulau itu dengan naik pesawat dari Jakarta ke Batam, dan dari Batam dengan perahu mesin. Kemudian Bintan-Jawa dengan menompang kapal laut, demi penghematan, katanya, sekalipun tentu lebih lama dalam perjalanan. Bagi seorang Tugimin, wong cilik, naik pesawat terbang dan kapal laut masih dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Lebih dari sekali dia mengucapkan ‘alhamdulillah’ untuk mengenang perjalanannya itu, lima tahun yang lalu.

Tugimin Suroharjo, kelahiran Desa Poncosari (Bantul), 18 Maret 1939, kini menetap di Desa Soragan, Ngestiharjo, masih dalam Kabupaten Bantul, yang kini masih dalam suasana berkabung akibat pukulan gempa 57 detik tanggal 27 Mei yang lalu itu. Rumahnya juga rusak, tetapi tidak parah. Sewaktu saya tanya, apakah sudah ada yang menawari untuk naik haji, jawabannya datar, “Belum ada panggilan Allah.” Tidak dijawab misalnya, “tidak ada tawaran itu”. Dua formula ungkapan yang berlainan dari sisi rasa dan substansi. Itulah Tugimin, sahabat kita, yang fungsinya ibarat pentil sepeda bagi Masjid Syuhada.

(Ahmad Syafii Maarif ,Resonansi REPUBLIKA)

Posted by Fahmi at 14:50:26 | Permalink | Comments (6)

Monday, August 7, 2006

Jika Anak Kita Berada di Qana

 Oleh : Zaim Uchrowi (Resonansi Republika)

Qana hanyalah sebuah titik kecil di Lebanon. Ia bukan Beirut, kota Arab yang paling ‘Barat’ itu. Bukan pula Tyre atau Sidon, ujung dari jalur perdagangan puluhan abad dari Cina hingga Laut Tengah yang dikenal sebagai Jalur Sutra. Tapi, di peralihan abad 20-21 ini, Qana telah menjadi potret yang menunjukkan bahwa dunia ternyata tidak berubah. Dunia, di era modern ini, ternyata tidak lebih beradab dibanding masa-masa sebelumnya. Dunia masih seperti semula: menjadi ajang kesewenangan mereka yang sangat berkuasa.

April 1996. Bom-bom Zionis telah menghujani Qana hingga remuk dan terbakar. Jangan tanyakan kondisi tubuh manusia. Apalagi bocah. Sebuah kejadian yang seharusnya tidak akan pernah ada lagi dalam sejarah umat manusia. Namun di Qana, tragedi itu berulang. Kini, 10 tahun kemudian, Qana kembali rata kembali dengn tanah. Bocah-bocah yang semestinya menyambut musim panas ini dengan riang, harus terkubur oleh reruntuhan beton atau malah terpanggang oleh bom. Tubuh puluhan bocah tercabik-cabik atau tertekuk kaku hanya dalam waktu sekejap.

Sebuah foto dari Halabja-Irak Utara, di akhir 1980-an, sempat menyentakkan dunia. Foto itu memperlihatkan seorang bocah dalam gendongan ayahnya yang tewas karena gas dari bom yang dijatuhkan rezim Saddam. Masyarakat dunia tercekat. Bagaimana kalau anak itu anak kita? Bagaimana perasaan kita melihat bocah dengan mata jernih tanpa dosa itu harus tewas karena keganasan orang-orang berkuasa?

Di Qana, kini, kita dapat melihat puluhan anak yang mengalami nasib seperti itu. Mereka semestinya bisa menikmati libur sekolah di bawah matahari seharian. Mereka dapat berlari-larian, bersepeda, main bola, atau menikmati permainan anak lainnya. Namun, bom telah membuat mereka harus meregang nyawa di usianya yang masih sangat belia. Bagaimana jika anak-anak itu adalah anak kita? Bisakah kita melupakan celoteh atau polah tingkahnya yang membuat dunia ini menjadi herwarna?

Kita mungkin berharap Bush atau Condi punya perasaan serupa. Yakni, perasaan untuk menyayangi setiap anak manusia apapun latar belakangnya. Keberadaan anak-anak di seputar kita akan mudah menumbuhkan perasaan demikian. Apalagi bila banyak kesempatan berinteraksi dengan mereka.

Kesempatan itu yang tak mereka miliki. Kalaupun memilikinya, mereka pun tak peduli. Kejumawaan sebagai penguasa dunia telah menutup mata hatinya. Beda dengan Ehud Olmert. Ia sebenarnya sering bermain dengan anak-anak. Para cucunya. Tapi apa pedulinya ia dengan anak-anak yang bukan anak-anak Israel? Apa pedulinya pula bila bom-bomnya mencabik-cabik tubuh bocah-bocah itu?

Qana akan terus menyimpan cerita keji itu, sebagaimana kisah ketidakberdayaan kita yang mencoba setia menggenggam nilai-nilai kemanusiaan. Di bawah bayang-bayang kekejian itu, serta dalam cengkeraman ketidakadilan dunia, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Demonstrasi dan aksi massa tak membuat mereka beringsut. Kita hanya bisa berdoa, meskipun kita tahu itulah selemah-lemah iman. Kita juga tak dapat mengumbar marah. Selain tak berarti apa-apa, pilihan itu juga hanya akan menperjelas kelemahan diri sendiri.

Namun, apa yang terjadi di Qana harus tidak pernah terjadi lagi. Anak-anak harus mendapatkan haknya untuk dapat tumbuh riang dan sehat. Di manapun mereka berada di sekujur bumi ini. Setiap anak perlu berkesempatan menjadi dewasa, hingga ia dapat bertanggung jawab atas setiap langkahnya sendiri.

Untuk itu kita tak cukup berdoa. Kita harus mentransformasi diri untuk secara bersama membangun pribadi dan bangsa yang tangguh. Kita harus bertekad menjadi bangsa yang benar-benar kuat melalui pendidikan, ekonomi, serta penguasaan teknologi tinggi. Hanya dengan menjadi kuat, kita tak dapat mencegah segala bentuk kesewenangan dan kebiadaban seperti yang sekarang terjadi. Hanya dengan menjadi kuat kita mampu tidak hanya berdoa, melainkan juga bisa melindungi anak-anak di seluruh dunia secara nyata dari kejahatan seperti yang terjadi di Qana.

Jika anak-anak kita berada di Qana dan tercabik serta terpanggang oleh bom-bom itu, mungkin kita baru akan percaya: betapa penting orang baik menjadi kuat.

Posted by Fahmi at 14:54:38 | Permalink | No Comments »

Sunday, July 30, 2006

Statistik pemeluk agama di bumi berdasar Encyclopædia Britannica, Inc.

Worldwide Adherents of All Religions 1995-1999

 Statistik Lima Tahunan Pemeluk Agama di Seluruh Dunia antara 1995-1999

 

Religion
Mid-1995
Mid-1996
Mid-1997
Mid-1998
Mid-1999

Christians

1.927.953.000

1.955.229.000

1.929.987.000

1.943.038.000

1.974.181.000

Affiliated Christians

#N/A

1.782.809.000

1.825.048.000

1.835.352.000

1.863.791.000

Roman Catholics

968.025.000

981.465.000

1.040.354.000

1.026.501.000

1.044.236.000

Protestants

395.867.000

404.020.000

360.913.000

316.445.000

337.346.000

Orthodox

217.948.000

218.350.000

223.204.000

213.743.000

213.991.000

Anglicans

70.530.000

69.136.000

54.785.000

63.748.000

78.574.000

Other Christians

275.583.000

282.258.000

287.857.000

373.832.000

395.974.000

Unaffiliated Christians

#N/A

172.420.000

104.939.000

107.686.000

110.390.000

Non-Christians

3.788.472.000

3.848.891.000

3.918.752.000

3.986.801.000

4.004.220.000

Atheists

219.925.000

222.195.000

146.615.000

149.913.000

149.723.000

Baha’is

6.104.000

6.404.000

7.666.000

6.764.000

6.932.000

Buddhists

323.894.000

325.275.000

353.141.000

353.794.000

356.270.000

Chinese folk religionists

225.137.000

220.971.000

363.334.000

379.162.000

381.632.000

Confucianists

5.254.000

5.086.000

6.112.000

6.241.000

6.253.000

Ethnic religionists

111.777.000

102.945.000

231.694.000

248.565.000

225.421.000

Hindus

780.547.000

793.075.000

746.797.000

761.689.000

799.028.000

Jains

4.886.000

4.920.000

4.016.000

3.922.000

4.151.000

Jews

14.117.000

13.866.000

14.890.000

14.111.000

14.313.000

Mandeans

44

45

40

38

38

Muslims

1.099.634.000

1.126.325.000

1.147.494.000

1.164.622.000

1.155.109.000

New-Religionists

121.297.000

106.015.000

98.699.000

100.144.000

101.406.000

Nonreligious

841.549.000

886.928.500

760.280.000

759.655.000

762.640.000

Shintoists

2.844.000

2.897.500

2.672.000

2.789.000

2.778.000

Sikhs

19.161.000

19.508.000

22.518.000

22.332.000

22.837.000

Spiritists

10.190.000

10.292.500

11.467.000

11.785.000

12.184.000

Zoroastrians

#N/A

#N/A

272

274

2486000

Other religionists

1.923.000

1.952.000

1.045.000

1.001.000

1.019.000

Total population

5.716.425.000

5.804.120.000

5.848.739.000

5.929.839.000

5.978.401.000

Berdasarkan data dari : Encyclopædia Britannica, Inc

Posted by Fahmi at 15:54:15 | Permalink | No Comments »

Jumlah Umat Islam Di Dunia

 

 

A. Negara Muslim Yang Sudah Merdeka

Nama Negara

Penduduk

Muslim

Prosentase
Muslim

Afganistan

17.900.000

17.721.000

99%

Albania

2.350.000

1.763.000

75%

Algeria

15.700.000

15.386.000

98%

Bahrain

222.000

220.000

99%

Bangladesh

75.000.000

63.750.000

85%

Cameroon

6.117.000

3.365.000

55%

Republik Afrika Tengah

1.640.000

902.000

55%

Chad

3.999.000

3.400.000

85%

Dahomey

2.909.000

1.746.000

60%

Mesir

35.900.000

33.387.000

93%

Ethiopia

26.598.000

17.289.000

65%

Gambia

384.000

327.000

85%

Guinea

4.259.000

4.047.000

95%

Guinea Bissau

810.000

567.000

70%

Indonesia

131.713.000

125.127.000

95%

Iran

32.215.000

31.571.000

98%

Iraq

10.164.000

9.657.000

95%

Ivory Cost

4.515.000

2.484.000

55%

Jordania

2.556.000

2.492.000

95%

Kuwait

917.000

917.000

100%

Libanon

3.021.000

1.722.000

57%

Libya

2.178.000

2.178.000

100%

Malaysia

11.393.000

5.925.000

52%

Maldives Islands

125.000

125.000

100%

Mali

5.392.000

4.853.000

90%

Mauritania

1.227.000

1.227.000

100%

Maroko

16.955.000

16.826.000

99%

Niger

4.355.000

3.963.000

91%

Nigeria

79.759.000

59.820.000

75%

Oman

750.000

750.000

100%

Pakistan

64.892.000

62.945.000

97%

Qatar

170.000

170.000

100%

Saudi Arabia

8.175.000

8.175.000

100%

Senegal

4.020.000

3.819.000

95%

Sierra Lone

2.769.000

1.800.000

65%

Somalia

3.950.000

3.950.000

100%

Yaman Selatan

1.516.000

1.440.000

95%

Sudan

16.911.000

14.375.000

85%

Syria

6.890.000

5.994.000

87%

Tanzania

14.380.000

9.347.000

65%

Togo

2.120.000

1.166.000

55%

Tunisia

5.521.000

5.245.000

95%

Turki

38.000.000

37.620.000

99%

Union Emirat Arab

320.000

320.000

100%

Upper Volta

5.514.000

3.879.000

56%

Yaman

6.070.000

6.000.000

99%

 

Jumlah

599.589.000

 

B. Negara Muslim di Bawah Kekuasaan Non Muslim

Nama Negara

Penduduk

Muslim

Prosentase

Azerbaijan

9.003.000

7.023.000

78% (Sovyet Rusia)

Brunei

150.000

114.000

76% (British)

Comoros Island

290.000

286.000

95% (French)

Eritria

3.000.000

2.250.000

75% (Ethiopia)

Kashmir

6.620.000

5.164.000

78% (India)

Kazakhtan

12.850.000

8.738.000

68% (Sovyet Rusia)

Kirghizia

2.933.000

2.699.000

92% (Sovyet Rusia)

Palestina

3.001.400

2.612.000

87% (Jews)

Sinkiang

9.310.000

7.535.000

82% (RR Cina)

Tajilustan

2.900.000

2.842.000

98% (Sovyet Rusia)

Turkmenia

2.158.000

1.943.000

90% (Sovyet Rusia)

Uzbekistan

41.669.000

36.669.000

88% (Sovyet Rusia)

Spanish Sahara

76.425

73.000

95% (Spain)

 

Total

77.948.000

 

C. Muslim yang Tinggal di Negara Non Muslim

Nama Negara

Luas daerah
km2

Jumlah
penduduk

Muslim

Prosentase

Angola

1.251.512

5.800.000

450.000

25%

Argentina

2.805.569

24.290.000

486.000

2%

Armenian SSR

29.395

2.943.000

299.000

12%

Australia

7.724.810

13.130.000

132.000

1%

Bhutan

47.182

1.100.000

55.000

5%

Botswana

571.519

670.000

34.000

5%

Brazil

8.544.822

105.137.000

210.000

0,2%

Bulgaria

111.270

8.620.000

1.207.000

14%

Burma

680.568

29.560.000

2.956.000

10%

Burundi

27.934

3.600.000

720.000

20%

Byelorusian SSR

208.400

9.003.000

540.000

6%

Cambodia

181.734

7.000.000

70.000

1%

Canada

10.014.680

22.130.000

100.000

0,5%

Chile

744.629

10.230.000

50.000

0,05%

China (RRC)

9.561.748

850.000.000

93.500.000

11%

Congo

343.319

1.000.000

150.000

15%

Cyprus

9.287

630.000

210.000

33%

Equatorial Guinea

28.215

300.000

75.000

25%

Fqi Islands

18.293

550.000

60.000

11%

Finlad

338.403

4.660.000

3.000

0,06%

France

552.913

52.130.000

1.043.000

2%

Gabon

265.954

520.000

234.000

45%

Georgian SSR

69.968

4.688.000

983.000

19%

Germany (West)

372.320

61.970.000

620.000

1%

Ghana

238.764

9.360.000

2.808.000

10%

Greece

132.454

8.970.000

270.000

3%

Guyana

215.800

760.000

114.000

15%

Hongkong

1.016

4.160.000

42.000

1%

Hungary

93.386

10.430.000

105.000

1%

India

3.280.152

574.220.000

68.907.000

12%

Italy

302.211

54.890.000

549.000

1%

Japan

370.986

108.350.000

109.000

0,1%

Kenya

584.896

12.480.000

3.682.000

29,5%

Korea Selatan

92.881

33.333.000

10.000

0,03%

Liberia

111.800

1.660.000

498.000

30%

Laos

237.715

3.180.000

32.000

1%

Lesatho

30.461

1.200.000

120.000

10%

Malagasy Republic

592.800

6.750.000

1.350.000

20%

Malawi

93.860

4.790.000

1.677.000

35%

Malta

371

320.000

45.000

14%

Mauritius

1.872

830.000

141.000

19,5%

Mexico

1.980.163

54.300.000

10.000

0,02%

Moldavian SSR

33.831

3.572.000

107.000

3%

Mozambique

774.100

8.820.000

2.205.000

29%

Namibia

827.478

670.000

34.000

5%

Nepal

141.341

12.020.000

481.000

4%

New Zealand

269.713

2.960.000

20.000

0,6%

Panama

74.758

1.570.000

50.000

3,5%

Philipines

300.970

40.220.000

4.827.000

12%

Poland

312.929

33.360.000

333.000

1%

Timor Timur

19.058

640.000

128.000

20%

Reunion

2.519

470.000

94.000

20%

Rumania

238.116

20.830.000

188.000

0,9%

Russian SFSR

17.075.416

130.090.000

7.805.000

6%

Rhodesia

390.865

5.900.000

885.000

15%

Rep. Afrika Selatan

1.228.133

23.720.000

474.000

2%

Sri Langka

63.863

13.250.000

1.195.000

9%

Suriname

165.452

430.000

107.000

25%

Swaziland

17.430

460.000

46.000

10%

Taiwan

38.103

15.000.000

135.000

0,9%

Thailand

520.384

39.790.000

5.571.000

14%

Trinidad & Tobago

4.846

1.060.000

127.000

12%

Uganda

244.350

10.810.000

3.881.000

35,9%

Ukranian SSR

603.319

47.136.000

5.657.000

12%

Amerika Serikat

9.399.299

211.210.000

3.169.000

1,5%

Vietnam

330.200

42.430.000

213.000

0,5%

Yugoslavia

256.791

20.960.000

4.192.000

20%

Zaire

2.345.409

23.835.900

2.384.000

10%

Zambia

655.524

4.640.000

696.000

15%

 

 

Jumlah

229.660.000

 

Resume

A. Negara Muslim Yang sudah merdeka

599.589.000 orang

B. Negara Muslim di bawah kekuasaan Non Muslim

77.948.000 orang

C. Muslim yang tinggal di Negara Non Muslim

299.660.000 orang

Jumlah Muslim sedunia

977.197.000 orang

Catatan:

Data-data statistik ini tidak dapat dijadikan sebagai acuan jumlah pasti umat islam di seluruh dunia, tetapi boleh dijadikan sebagai dasar perkiraan saja.

Posted by Fahmi at 15:47:37 | Permalink | No Comments »

Mengapa Kami Memilih Islam

Islam adalah agama dari Tuhan, berisi tuntunan hidup yang diwahyukan kepada hambaNya untuk seluruh ummat manusia. Karena untuk tegaknya kehidupan manusia di atas planet bumi ini diperlukan dua hal:

Pertama: Terpenuhinya kebutuhan pokok berikut sumber-sumbernya untuk menjamin kelangsungan hidup, dan kecukupan material yang dibutuhkan oleh perseorangan dan masyarakat.

Kedua: Mengetahui dasar-dasar pengetahuan tentang tata-cara hidup perseorangan dan masyarakat-masyarakat, agar terjamin berlakunya keadilan dan ketentraman dalam masyarakat dan kebudayaan.

Allah Rabbul-’alamin telah menyediakan kedua macam kebutuhan itu secukupnya untuk manusia. Untuk kebutuhan pertama, Allah s.w.t. telah menyediakan sumber-sumber alam dan menyerahkannya kepada manusia untuk digali dan diolah. Dan untuk kebutuhan kedua, yakni kebutuhan kejiwaan/rohani, kemasyarakatan dan kebudayaan, Allah s.w.t. telah memilih dan mengangkat para Rasul yang diberi wahyu tentang peraturan hidup yang dapat membimbing manusia menempuh jalan hidup yang lurus dan benar. Peraturan hidup itu ialah yang dinamakan ISLAM, agama yang dibawa oleh semua Rasul.1 Semua Rasul itu telah mengajak manusia ke jalan Tuhan al-Khaliq, yakni jalan tunduk kepada Allah s.w.t. Semua Rasul telah menyampaikan risalah yang sama dan dakwah yang sama, yaitu Islam.

Islam dalam bahasa Arab, berarti tunduk dan menyerah atau taat. Sebagai satu agama, Islam berdiri di atas dasar menyerahan diri sepenuhnya dan taat kepada AIlah s.w.t. Itulah pula sebabnya, makanya agama ini dinamakan Islam.

Islam juga berarti selamat dan sejahtera. Pengertian ini menunjukkan bahwa, manusia tidak akan dapat mencapai keselamatan dan kesejahteraan yang sebenarnya, kecuali dengan jalan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t. Cara hidup seperti inilah, yang tetap di bawah naungan ketaatan kepada Allah s.w.t., hidup yang selalu diliputi ketenangan jiwa bagi perseorangan dan kesejahteraan/ketentraman bagi masyarakat.

Orang-orang yang beriman, yang berhati tenang dengan ingat kepada Allah. Ingatlah bahwa hati akan tenang dengan mengingat Allah. Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, kebahagiaanlah untuk mereka dan tempat kembali (Surga) yang baik. (Ar-Ra’d, 28 - 29)

Itulah pokok seruan semua Rasul Allah untuk membawa alam kemanusiaan kepada jalan kehidupan yang lurus. Tetapi manusia tidak selalu berada dalam jalan yang benar. Mereka kadang-kadang menyimpang dari bimbingan yang diberikan oleh para Rasul itu. Itulah sebabnya, maka ada beberapa Rasul yang diutus guna memberikan kembali seruan/risalah yang asli dan membawa manusia ke jalan yang benar. Rasul yang terakhir ialah Muhammad s.a.w. yang telah memberikan bimbingan Allah s.w.t. dalam bentuknya yang final dan sempurna untuk segala zaman. Bimbingan inilah yang sekarang dikenal sebagai Islam, terkandung dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan contoh kehidupan Rasulullah s.a.w.

Dasar-dasar kepercayaan Islam

Konsep yang pokok dalam Islam ialah bahwasanya seluruh alam ini, Tuhanlah yang telah menjadikan, menguasai dan mengawasinya, bahwasanya Dia adalah Maha Tunggal, tidak ada yang menyertai dalam kesucian-Nya. Dia telah menciptakan manusia dan menentukan ajalnya, dan bahwasanya Allah s.w.t. telah menyediakan untuk seluruh alam jalan hidup yang lurus, sekaligus memberikan kebebasan mutlak kepada hamba-Nya untuk mengikuti atau mengingkarinya. Barang siapa yang mengikuti jalan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang Muslimin dan Mukminin, dan barangsiapa yang tidak mengikutinya, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir yang mengingkari kebenaran.

Orang telah memeluk Islam, apabila ia telah menyaksikan dengan sepenuh keimanan atas ke-Esaan Allah dan bahwa Muhammad s.a.w. adalah Rasulullah. Kedua kepercayaan ini tersimpul dalam kalimat:

Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah.

Bagian pertama kalimat ini memberikan konsep Tauhid (ke-Esaan Tuhan), dan bagian kedua adalah kesaksian atas kerasulan Muhammad s.a.w.

Tauhid adalah akidah revolusioner yang menjiwai seluruh ajaran Islam; akidah yang meyakinkan bahwasanya seluruh alam ini kepunyaan Tuhan Yang Maha Esa dan seluruhnya berada di bawah kekuasaan-Nya, Dzat yang Azaly, tiada permulaan dalam wujudnya, tidak dibatasi tempat dan waktu, mengatur seluruh dunia dengan segenap manusia yang ada di atasnya.

Sesungguhnya, adalah benar-benar merupakan keajaiban, apabila orang memperhatikan tentang penciptaan alam yang tidak ada henti-hentinya dengan pengaturan yang pasti, terarah dan serasi, serta kemampuannya untuk mempertahankan apa yang bermanfaat dan menghukum apa yang berbahaya bagi kemanusiaan. Semua itu memberikan kesimpulan bahwa dibalik alam ini ada satu Kekuatan yang terus menerus aktif menciptakan perkembangan alam tanpa pengumuman! Itu bintang-bintang yang memenuhi angkasa luas dan pemandangan alam yang memikat hati, perputaran matahari dan bulan yang menakjubkan, pergantian musim, pergantian siang dan malam, sumber-sumber air yang tak kunjung kering, bunga-bunga yang halus dan cahaya bintang-bintang yang gemerlapan. Bukankah semua itu menunjukkan adanya Dzat Yang Maha Kuasa yang telah menjadikannya dan menguasai segala keadaan? Kalau kita perhatikan alam ini secara keseluruhan, ternyatalah kepada kita adanya tata-cara yang teratur. Apakah yang demikian itu tidak menunjukkan atas adanya Tuhan? Dapatkah semua itu terjadi secara kebetulan?

Sungguh benar firman Allah s.w.t.:

Hai sekalian manusia! Sembahlah Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu dapat menjaga diri. Tuhan yang telah menjadikan buat kamu bumi yang menghampar dan langit yang memayung, dan Dia telah menurunkan air dan langit, lalu dengan air itu Dia mengeluarkan buah-buahan sebagai rizqi buat kamu. Maka oleh karena itu, janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Al-Baqarah 21-22)

Itulah akidah asasi (kepercayaan pokok) yang diserukan oleh Muhammad s.a.w. kepada seluruh ummat manusia, supaya menjadi pegangan hidupnya. Akidah ini logis dan menyeluruh, dapat memecahkan segala persoalan alam, dan menunjukkan bahwa alam ini tunduk di bawah satu hukum kekuasaan tertinggi. Akidah ini memberikan gambaran umum yang sesuai dengan kenyataan bahwa seluruh isi alam ini satu sama lain saling melengkapi; berbeda sepenuhnya dengan pandangan yang sepotong-potong dari ilmuwan dan para filsuf, dan dapat menyingkap tabir rahasia/hakikat yang sebenarnya.

Setelah berabad-abad lamanya manusianberada dalam kegelapan, mulailah sekarang manusia dapat menemukan hakikat itu sedikit demi sedikit berdasarkan konsep akidah ini, dan pikiran ilmiah modern pun terus bergerak kearah ini.2 Akidah ini bukan sekedar konsep metaphisic atau kumpulan kata-kata yang tidak berarti. Akidah ini adalah suatu kepercayaan yang dynamis dan doktrin yang revolusioner. Akidah ini mengandung pengertian bahwa semua manusia adalah ciptaan Allah dan semua mereka adalah sama. Sikap-sikap diskriminatif berdasarkan warna kulit, kelas-kelas sosial, suku bangsa, bangsa atau daerah asal kelahiran itu tidak ada dasarnya, dan sikap atau pandangan seperti itu adalah warisan zaman jahiliyah yang telah mengikat manusia kepada perbudakan.

Manusia seluruhnya merupakan satu keluarga yang diurus Allah s.w.t., sehingga tidaklah sepatutnya ada dinding pemisah di antara sesama mereka. Manusia semuanya sama, tidak ada perbedaan golongan borjuis atau proletar, kulit putih atau kulit hitam, bangsa Aria atau bukan Aria, orang Barat atau orang Timur. Islam telah memberikan konsep revolusioner tentang kesatuan ummat manusia. Dan kebangkitan Rasulullah s.a.w. itu tidak lain hanya untuk mempersatukan seluruh alam di bawah kalimat Allah, dan untuk membangkitkan kehidupan baru di dunia yang sudah mati.

Firman Allah s.w.t.:

Berpegang teguhlah kamu sekalian kepada agama Allah dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu, tatkala kamu bermusuh-musuhan, lalu Allah melembutkan hati kamu semua sehingga atas karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ali Imran 103)

Akidah ini juga menjelaskan tentang hakikat kedudukan manusia dalam alam ini. Allah telah menciptakan alam serta memeliharanya, dan manusia adalah khalifah atau wakil-Nya di atas planet bumi ini. Dengan demikian, maka derajat manusia itu cukup tinggi, seharusnya mempunyai pimpinan dunia modern, pasti dia berhasil menyelesaikan segala persoalannya dengan cara yang dapat membawa dunia kepada kesejahteraan dan kebahagiaan. Saya berani meramalkan, bahwa akidah yang dibawa oleh Muhammad akan diterima baik oleh Eropa di kemudian hari, sebagaimana sekarang sudah mulai.3

Pertama: Mudah, Rasional dan Praktis

Islam adalah agama yang tidak dicampuri mitologi. Ajaran-ajarannya mudah dimengerti. Islam bebas dari takhayul dan setiap kepercayaan yang bertentangan dengan akal yang sehat. Ke-Esaan Tuhan, ke-Rasulan Muhammad s.a.w. dan konsep kehidupan sesudah mati adalah dasar pokok akidah Islam. Semua itu beralasan kuat dan logis. Dan seluruh ajaran Islam adalah lanjutan dari dasar-dasar kepercayaan ini, semuanya mudah difahami dan lurus. Dalam Islam tidak ada kekuasaan pendeta, tidak ada yang samar-samar dan tidak ada upacara-upacara atau peribadatan yang sulit. Semua orang dapat membaca langsung Kitabullah (Al-Qur’an) dan melaksanakannya dalam praktek. Islam selalu menganjurkan supaya orang berpikir, mempertimbangkan setiap urusan sebelum dilaksanakan, membahas keadaan yang sebenarnya dan berusaha mendapatkan ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam. Al-Qur’an menganjurkan supaya orang berdo’a:

Tuhanku! Tambahlah ilmu pengetahuanku! (Toha 114)

Al-Qur’an menyatakan bahwa orang yang berpengetahuan itu tidak sama dengan orang yang tidak berpengetahuan:

Katakanlah: Apakah orang-orang yang berpengetahuan sama dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan amalnya dalam keadaan terbuka. (Aku katakan): Bacalah buku amal kamu. Cukuplah kamu sendiri menghitungnya hari ini. (Al-Isra’ 13-14)

Barangsiapa yang datang dengan kebajikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat, dan barangsiapa yang datang dengan keburukan, maka dia hanya dibalas dengan hukuman yang seimbang. Mereka tidak dianiaya. (Al-An’am 160)

Dengan demikian, maka dapatlah dikatakan bahwa pokok asasi akidah Islam itu ada tiga, yaitu:

  1. Iman atau percaya atas ke-Esaan Allah.
  2. Iman atau percaya bahwa Muhammad itu Utusan Allah.
  3. Iman atau percaya akan adanya kehidupan akhirat dan adanya hisab pada hari kiamat.

Maka barang siapa yang beriman kepada tiga pokok tersebut, dia adalah orang Muslim, dan kesemuanya dituangkan dalam kalimat:

“LAA ILAAHA ILLALLAAH, MUHAMMADUR-RASULULLAAH”

Beberapa watak pokok Islam

Bernard Shaw berkata: “Saya selalu memandang tinggi agama Muhammad, karena vitalitasnya yang mengagumkan. Agama Muhammad adalah satu-satunya agama yang jelas bagi saya membuktikan kemampuannya yang besar dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang berubah-rubah dan menyebabkannya sesuai untuk segala masa. Saya telah mempelajari kehidupan orang ini4, orang yang mengagumkan dan menurut pikiran saya jauh dari bersifat anti Kristus, dia mestinya mendapat gelar Juru Selamat Kemanusiaan. Saya yakin, jika seorang seperti dia diserahi tujuan hidup yang luhur, yakni melaksanakan kehendak Allah di muka bumi. Inilah satu-satunya penyelesaian atas segala persoalan sulit yang dihadapi manusia dalam hidupnya dan sekaligus membina tatanan baru, berupa persamaan, keadilan dan keamanan, sehingga berbahagialah dunia dengan keselamatan dan kemakmuran.

Titik tolak kepercayaan Islam ialah percaya atas ke-Esa-an Allah, yakni Tauhid, dan bahwa Allah swt. Tidak menjadikan manusia untuk dibiarkan begitu saja, tanpa petunjuk yang menerangi jalan hidup mereka. Untuk itu Allah swt. Telah mengutus para Rasul yang membawa agama Allah untuk keselamatan mereka, dan Muhammad saw. adalah Rasul-Nya yang terakhir. Dan Iman kepada Rasul itu menuntut supaya juga beriman terhadap risalahnya serta taat kepada ajaran-ajarannya, menerima ketentuan hukum yang telah ditetapkannya, mengenai perjalanan hidup yang harus ditempuh. Dengan demikian, maka landasan kedua dalam Islam adalah beriman kepada risalah yang disampaikan melalui Muhammad saw. dan memeluk agama yang dibawanya, berikut melaksanakan segala ajarannya. Dan ini akan membawa kita kepada pokok Islam yang ketiga yaitu percaya atas adanya kehidupan akhirat.

Adapun dunia ini, menurut pandangan Islam, adalah tempat ujian. Manusia akan dituntut pertanggungan jawab atas segala amal perbuatannya, dan pasti akan datang hari penghabisan hidupnya di dunia, untuk kemudian dibangkitkan kembali di alam yang baru, dimana manusia akan mendapat balasan atas segala perbuatannya yang baik maupun yang buruk. Maka orang-orang yang taat kepada Allah di dunia ini, akan mendapat kebahagiaan yang kekal di alam akhirat, dan sebaliknya orang-orang durhaka kepada Allah di dunia ini, kelak di akhirat akan mendapat balasan buruk, sesuai dengan firman Allah swt. Dalam al-Qur’anul-karim:

Dan setiap manusia Aku ikatkan amalnya di kuduknya, dan Aku keluarkan baginya pada hari kiamat buku catatan. Orang-orang yang mengambil pelajaran itu hanyalah mereka yang berakal sehat. (Az-Zumar 9)

Al-Qur’an juga mencela orang-orang yang tidak mau berpikir tentang makhluk Allah dan menganggapnya lebih sesat daripada hewan:

Dan sungguh telah Aku jadikan untuk isi Jahannam banyak jin dan manusia yang punya hati tidak digunakan untuk mengerti, punya mata tidak digunakan untuk melihat dan punya telinga tidak untuk mendengar. Mereka tida berbeda dengan hewan ternak, bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lupa. (Al-A’raf 179)

Sebaliknya, Al-Qur’an menilai orang-orang yang percaya atas ayat-ayat Allah sebagai orang-orang yang mengerti,

Aku telah menjelaskan ayat-ayat-Ku bagi orang-orang yang mengerti. (Al-An’am 97).

Mereka juga dinilai sebagai orang yang berpikir:

Aku telah menjelaskan ayat-ayat-Ku bagi orang-orang yang berpikir. (Al-An’am 98).

Dijelaskan pula bahwa orang-orang dikaruniai hikmah (ilmu kebijaksanaan) bahwa mereka itu telah dikaruniai kebaikan yang banyak dan berakal sehat:

Dan barangsiapa yang diberi hikmah, maka dia telah diberi kebaikan yang banyak, dan tidaklah menerima petunjuk selain orang yang berakal sehat. (Al-Baqarah 269)

Ilmu yang luas dan badan yang sehat adalah termasuk sifat orang-orang yang dipilih Allah untuk memimpin/memerintah sesama manusia. Hal itu diterangkan dalam hikayat Al-Qur’an tentang Thalut yang diangkat Raja atas kaumnya:

Nabi mereka berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mengutus Thalut sebagai Raja buat kamu.’ Mereka bertanya: “Bagamana dia mendapatkan kerajaan atas kami, pada hal kamu lebih berhak atas kerajaan dari pada dia dan juga dia tidak kaya?” Jawab Nabi: ‘Sesungguhnya Allah telah memilih dia atas kamu dan telah menambah dia ilmu yang luas dan badan yang sehat/kuat. Dan Allah memberikan kerajaan-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah itu Maha luas ilmunya dan Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah 247)

Al-Qur’an juga menyatakan bahwa manusia lebih mulia dari pada Malaikat karena ilmu, sehingga manusia diberi hak mengatur dunia sebagai Khalifah Allah:

Dan ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang Khalifah di bumi. Para Malaikat bertanya: “Apakah Engkau akan menjadikan orang yang akan berbuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah? Pada hal kami ini bertasbih dengan selalu memuji dan mensucikan Engkau?” Tuhanmu berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak tahu. Lalu Tuhanmu mengajari Adam tentang semua nama-nama. Kemudian ditunjukkan-Nya kepada para Malaikat dengan firman-Nya: Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama semua itu, jika kamu memang betul (dalam pengakuanmu)! Para Malaikat menjawab: “Maha Suci Engkau. Kami tidak tahu selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” Firman Tuhanmu: Adam! Terangkanlah kepada mereka nama-nama semua itu! Maka sesudah Adam memberitahukan semua nama, Tuhanmu berfirman: Tidakkah Aku katakan kepada kamu bahwa Aku mengetahui kegaiban langit tujuh dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tunjukkan dan apa yang kamu sembunyikan? (Al-Baqarah 30-33)

Rasul Islam telah pula bersabda:

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap orang Islam, pria dan wanita. - Riwayat Ibnu Abdil-Barr dari Anas.

Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia itu dalam jalan Allah, sampai waktunya dia kembali - Riwayat At-Turmudzy dari Anas.

Pelajarilah oleh kamu ilmu, sebab mempelajari ilmu itu memberikan rasa takut kepada Allah, menuntutnya merupakan ibadah, mengulang-ulangnya merupakan tasbih, pembahasannya merupakan jihad, mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya merupakan sadakah dan menyerahkannya kepada ahlinya merupakan “pendekatan diri” kepada Allah - Riwayat Ibn ‘Abdil-Barr.

Demikianlah Islam telah mengeluarkan manusia dari alam khurafat dan kegelapan dan membawa mereka ke dunia ilmu yang terang benderang. Kemudian Islam adalah agama yang praktis, tidak hanya merupakan teori yang kosong, bukan hanya akidah yang harus diimani semata-mata, akan tetapi juga harus dijadikan sumber praktek hidup sehari-hari, sehingga jiwa yang berisi Iman itu mengalir dalam arus amal perbuatan, seperti mengalirnya air di atas bumi yang subur. Agama Islam tidak hanya berupa kata-kata yang berulang-ulang, berupa dzikir dan puji kepada Allah s.w.t. saja, tetapi harus menjiwai kehidupan manusia seluruhnya. Dalam hal ini Al-Qur’an menyatakan:

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik - Ar-Ra’d 29.

Dan sabda Rasulullah saw.:

Sesungguhnya Allah swt. tidak menerima amal kecuali yang dilakukan dengan ikhlas, karena Dia dan dimaksudkan untuk keridlaan-Nya - Riwayat An-Nasa’iy.

Kedua: Bersatunya Benda dan Rohani

Islam tidak memberikan garis pemisah antara benda dan rohani. Islam memandang hidup ini sebagai satu kesatuan yang mencakup kedua-duanya, sehingga Islam tidak merupakan penghalang antara manusia dan kepentingan hidupnya, bahkan Islam mengatur seluruh urusan hidup. Islam tidak mengakui adanya larangan dan tidak menuntut supaya orang menjauhi kehidupan materi. Bahkan Islam menunjukkan jalan ke arah kesempurnaan rohani bukan dengan jalan menjauhi kehidupan materi. Bahkan Islam menunjukkan jalan ke arah kesempurnaan rohani bukan dengan jalan menjauhkan diri dari kehidupan duniawi, tetapi dengan jalan taqwa kepada Allah dalam seluruh kebutuhan hidup yang beraneka-ragam, sebagaimana dihikayatkan dalam Al-Qur’an mengenai hamba-hamba Allah yang saleh:

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Tuhan-Ku! Berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa neraka. Mereka itulah yang mendapat bagian (pahala) dari apa yang mereka lakukan, dan Allah itu cepat hisab-Nya — Al-Baqarah 201-202.

Malah Al-Qur’an mencela orang-orang yang tidak memanfaatkan ni’mat harta kurnia Allah:

Katakanlah, siapa yang melarang perhiasan Allah yang dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rizqi yang baik-baik. Katakanlah, itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khususnya pada hari kiamat. Begitulah Aku menjelaskan ayat-ayat-Ku untuk orang-orang yang mengetahui — Al-A’raf 32.

Akan tetapi dalam pada itu Islam menuntut supaya para penganutnya menjadi ummat yang sedang-sedang dalam kehidupan dunia:

Hai turunan Adam! Kenakanlah pakaian kamu pada setiap kali kamu bersembahyang di mesjid dan makan minumlah kamu dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak senang kepada orang-orang yang suka berlebih-lebihan. - Al-A’raf 31.

Dan sabda Rasulullah saw.:

Orang mukmin yang bergaul dalam masyarakat dan tabah atas segala rintangan adalah lebih baik daripada orang mukmin yang tidak bergaul dan tidak tabah/tidak sabar atas rintangan. - Riwayat Bukhari.

Rasulullah saw. pernah bersabda yang ditujukan kepada Abdullah bin Umar bin ‘Ash:

Aku mendapat kabar bahwa engkau berpuasa tanpa berbuka dan melakukan sembahyang sepanjang malam. Janganlah engkau berbuat begitu, sebab matamu juga harus dapat bagian, dirimu harus dapat bagian dan istrimu juga harus dapat bagian. Oleh karena itu, berpuasalah dan berbuka, bersembahyanglah dan tidur. - Riwayat Muslim.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw. bersabda:

Tiga perkara termasuk Iman, memberi nafkah tanpa terlalu beririt-irit, mengusahakan keselamatan untuk semua orang dan menginsafi dirimu sendiri. - Riwayat Muslim.

Jadi Islam itu tidak membuat garis pemisah antara kepentingan kebendaan dan kepentingan kerohanian dalam kehidupan manusia, bahkan Islam menjalin kedua-duanya, sehingga terbukalah jalan hidup yang sesuai dengan kemampuan orang atas dasar yang shah dan baik. Islam mengajarkan bahwa kebendaan dan kerohanian adalah dua hal yang selalu harus berdampingan dan bahwasanya kesucian rohani dapat terhindar dari keburukan, apabila sumber-sumber kebendaan dibaktikan untuk kepentingan kemanusiaan. Kesucian rohani tidak akan tercapai dengan jalan menyiksa diri, menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dan menekan naluri kemanusiaan. Dunia ini telah cukup menderita, akibat ajaran-ajaran yang berat sebelah dari agama dan ideologi lain. Ada agama yang menekankan ajarannya kepada segi kerohanian saja dalam hidup ini, dan bersikap masa bodoh terhadap benda dan kehidupan duniawi. Mereka memandang dunia ini sebagai khayalan penipuan dan perangkap. Di lain pihak, ada ideologi materialistis yang sepenuhnya bersikap masa bodoh terhadap segi kerohanian dan moral serta menganggapnya sebagai khayalan semata-mata. Kedua macam ajaran/pendirian ini telah menimbulkan kerusakan/kehancuran. Mereka telah merampas keamanan, kepuasan dan ketenangan manusia. Sampai sekarang tetap menimbulkan ketidak seimbangan.

Seorang sarjana Perancis Dr. De Brogbi dengan tepat menyatakan:

“Bahaya yang mengancam kebudayaan yang terlalu menitik-beratkan kebendaan ialah kehancuran kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan semacam itu kalau tidak disusul dengan perkembangan kehidupan rohani, pasti gagal membuat keseimbangan.”

Agama Kristen tersesat dengan terlalu menekankan ajarannya kepada salah satu extrimitas, yakni kerohanian, sedangkan kebudayaan modern tersesat pada extrimitas yang lain, yakni kebendaan. Seperti kata Lord Snell: “Kita telah mendirikan bangunan yang lahirnya memang mewah dan megah, tapi kita tidak memperhatikan tuntutan pokok yang harus menjadi isinya. Kita dengan sepenuh perhatian membuat rencana, dekorasi dan membersihkan semua bagian luar bangunan kita, akan tetapi bagian dalamnya penuh dengan pemerasan dan pelanggaran. Kita telah mempergunakan kemajuan pengetahuan dan kekuatan untuk mengatur kesenangan badan, tapi kita telah meninggalkan segala kepentingan rohani.”

Agama Islam telah membina keseimbangan antara kedua segi kehidupan: kebendaan dan kerohanian. Islam menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini untuk manusia, akan tetapi manusia sendiri untuk mengabdi kepada Tuhan; tugas kehidupannya ialah melaksanakan kehendak Tuhan. Ajaran-ajaran Islam mendorong manusia ke arah kebersihan rohani, sama seperti dorongannya untuk mendapatkan kebutuhan hidupnya di dunia yang bersifat sementara ini. Islam menyuruh manusia supaya membersihkan jiwanya, sekaligus membentuk atau membangun kehidupan dunianya, perseorangan maupun masyarakat, dan supaya membina hak/kebenaran atas kekuasaan dan kebajikan atas kejahatan. Jadi, Islam itu berdiri di atas jalan tengah.

Ketiga: Jalan Hidup yang Sempurna

Islam bukan satu agama yang hanya mempunyai ruang lingkup kehidupan pribadi manusia, seperti yang disalahartikan oleh banyak orang. Islam adalah satu jalan-hidup yang sempurna, meliputi semua lapangan hidup kemanusiaan. Islam memberikan bimbingan untuk setiap langkah kehidupan perorangan maupun masyarakat, material dan moral, ekonomi dan politik, hukum dan kebudayaan, nasional dan internasional. Al-Qur’an memerintahkan supaya manusia memeluk agama Islam secara keseluruhan, tanpa pilih-pilih, dan mengikuti semua bimbingan Tuhan dalam segala macam lapangan hidup. Kenyataan sekarang membuktikan bahwa ruang lingkup agama itu dibatasi hanya pada kehidupan perseorangan, sedangkan peranan sosial dan kebudayaannya ditinggalkan. Mungkin tidak ada faktor lain lagi yang lebih penting dari itu yang telah menyebabkan kemerosotan agama di abad modern sekarang ini. Salah seorang filosof modern berkata: “Agama memerintahkan supaya kita memisahkan apa yang untuk Tuhan dan apa yang untuk Kaisar. Pemisahan ini berarti niengurangi dua-duanya. Mengurangi peranan dunia dan agama. Agama sangat kecil, kalau jiwa para penganutnya tidak tergetar ketika awan gelap peperangan bergayutan di atas kepala kita semua dan persaingan industri telah mengancam keamanan masyarakat. Agama telah memperlemah naluri sosial kemanusiaan dan kepekaan moral dengan jalan pemisahan apa yang untuk Tuhan dari apa yang untuk Kaisar.” Islam menolak sepenuhnya konsep pemisahan agama seperti itu, dan jelas menyatakan bahwa tujuannya ialah menyempurnakan jiwa dan membentuk masyarakat.

Sungguh Aku telah mengutus Rasul-rasul-Ku dengan membawa penjelasan, dan Aku telah menurunkan bersama mereka Kitab dan keadilan,5 supaya manusia menegakkan keadilan, dan Aku telah menyediakan besi yang mengandung bahaya besar dan manfaat yang banyak bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong agama-Nya dan rasul-Nya, walaupun agama itu ghaib. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuat dan Maha Perkasa. - Al-Hadid 25.

Dan

Apa yang kamu sembah selain Allah itu hanya sebutan-sebutan yang kamu berikan saja, kamu dan leluhur kamu. Allah tidak memberikan kekuasaan untuk itu. Kekuasaan itu hanya pada Allah. Dia memerintahkan bahwa hendaklah kamu tidak menyembah kepada selain Dia. Itulah agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. - Yusuf 40.

Mengenai orang-orang yang berhak mendapat pertolongan Allah swt., Al-Qur’an menyatakan:

Orang-orang yang kalau Aku tempatkan mereka di bumi, mereka melakukan sembahyang, membayar zakat, memerintahkan/menganjurkan kebaikan dan melarang/memperingatkan keburukan. Dan kepada Allah-lah kembalinya segala urusan. - Al-Haj 41.

Dan Rasulullah saw. bersabda:

Semua kamu adalah pemimpin dan semua kamu akan diminta pertanggungjawabannya. Sebab, Imam adalah pemimpin, dan dia diminta pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin dalam lingkungan keluarganya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah suaminya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang pelayan adalah pemimpin dalam harta kekayaan majikannya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Jadi semua kamu itu pemimpin dan semua kamu itu akan diminta pertanggungjawabannya. - Muttafaq Alaih.

Saya kira orang tidak perlu mempelajari secara mendalam tentang ajaran-ajaran Islam, kalau sekedar untuk mengetahui bahwa Islam itu adalah suatu agama yang menyeluruh, meliputi segala lapangan hidup manusia, dan tidak membiarkan satu lapanganpun untuk dimasuki oleh kekuatan buruk syaitan.

Keempat: Ada keseimbangan antara perorangan dan kemasyarakatan

Ada satu keistimewaan yang bersifat unik bagi Islam, yaitu bahwa agama ini membina keseimbangan antara kepentingan perorangan dan kepentingan kemasyarakatan. Islam percaya adanya kepribadian manusia dan menentukan bahwa setiap orang secara sendiri-sendiri bertanggung jawab terhadap Tuhan. Islam menjamin hak-hak azasi manusia dan tidak membenarkan siapapun juga untuk merobek-robek atau menguranginya. Islam juga menjamin perkembangan yang baik kepribadian manusia, sebagai salah satu tujuan utama dari kebijaksanaan pendidikannya.

Islam tidak setuju dengan pandangan bahwa manusia harus melenyapkan kepribadiannya, meleburkan diri dalam masyarakat atau negara.

Al-Qur’an menyatakan:

… dan bahwa manusia tidak akan mendapat selain apa yang dia usahakan. — An-Najm 39.

Dan musibah apa yang menimpa kamu itu disebabkan perbuatan kamu. — Asy-Syura 30.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka sendiri mau mengubah keadaannya. - Ar-Ra’d 11.

Bermanfaat bagi seseorang apa yang dia usahakan, dan berbahaya baginya apa yang dia lakukan. — Al-Baqarah 286.

Mengenai sikap seorang Mukmin dalam menghadapi ajakan kaum musyrikin, Tuhan mengajarkan:

Bagi kami bermanfaat amal perbuatan kami dan bagi kamu amal perbuatan kamu. — Al-Qashash 55.

Semua itu mengenai soal-soal perseorangan.

Di lain pihak, Islam selalu menanamkan dalam jiwa manusia rasa tanggung jawab sosial, mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat dan negara, dan mengikutsertakan setiap orang dalam usaha menegakkan kemaslahatan umum.

Sembahyang dalam Islam dilakukan secara bersama-sama (berjama’ah), salah satu cara untuk menanam rasa disiplin sosial di kalangan ummat Islam. Setiap orang diwajibkan nnembayar zakat, sekurang-kurangnya zakat fithrah.

Al-Qur’an menyatakan:

Dan dalam harta kekayaan mereka ada bagian hak yang dibutuhkan oleh yang meminta dan miskin. — Adz-Dzariyat 19.

Jadi zakat itu adalah sebagian harta yang menjadi hak masyarakat. Dan jihad (berjuang) dalam Islam itu wajib. Ini berarti bahwa setiap orang diharuskan berkorban, sampai dengan jiwanya sekalipun, untuk mempertahankan kejayaan Islam dan negaranya. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. bersabda:

Semua kamu adalah pemimpin dan semua kamu akan diminta pertanggungjawabannya. Sebab, Imam adalah pemimpin, dan dia diminta pertanggungjawabannya. Seorang suami adalah pemimpin dalam lingkungan keluarganya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah suaminya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Seorang pelayan adalah pemimpin dalam harta kekayaan majikannya, dan dia akan diminta pertanggungjawabannya. Jadi semua kamu itu pemimpin dan semua kamu itu akan diminta pertanggungjawabannya. - Muttafaq Alaih.

Sabdanya pula:

Kamu jangan berprasangka, sebab prasangka itu adalah ucapan yang paling bohong. Dan janganlah kamu saling selidik menyelidik kesalahan, jangan saling bermegahan, jangan saling benci, jangan saling belakangi. Jadilah kamu –hamba Allah– bersaudara, sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kamu. — Riwayat Bukhari dan Muslim.

Dan:

Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur dengan perut kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan, dan dia mengetahui hal itu. — Riwayat Al-Bazar.

Dan:

Orang Mukmin itu ialah orang yang boleh dipercaya atas harta dan diri/jiwa orang lain. — Riwayat Ibnu Majah.

Singkatnya, Islam tidak hanya menegakan hak-hak perseorangan atau hanya mengakui hak-hak masyarakat saja. Islam membina keserasian dan keseimbangan antara keduanya, dengan memberikan batas-batas yang teliti untuk kebaikan dua-duanya.

Kelima: Universal dan Kemanusiaan.

Risalah Islam adalah untuk seluruh ummat manusia. Tuhan, dalam ajaran Islam, adalah Tuhan seluruh alam. Firman Allah:

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang mengurus seluruh alam. — Al-Fatihah 2.

Dan Nabi Muhammad s.a.w. adalah seorang Rasul untuk seluruh kemanusiaan. Al-Qur’an menyatakan:

Katakanlah: Hai sekalian manusia! Sesungguhnya aku ini adalah Utusan Allah kepada kamu sekalian. — Al-A’raf 158.

Dan firman-Nya:

Maha Tinggi Tuhan yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada hamba-Nya, supaya menjadi peringatan bagi seluruh alam. — Al-Furqan 1.

Dan firiman-Nya lagi:

Tidaklah Aku mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam. — Al-Anbiya 107.

Menurut ajaran Islam, manusia itu semuanya sama, walaupun berlainan warna kulit, bahasa, keturunan dan kebangsaannya. Hal itu adalah bimbingan Allah kepada naluri kemanusiaan, dan Dia tidak mengakui adanya perbedaan keturunan/kebangsaan, kedudukan sosial atau kekayaan. Tidak bisa dibantah bahwa dalam kenyataan, semua perbedaan itu masih ada dalam zaman kita yang mengaku abad ilmu dan kemajuan ini. Akan tetapi Islam tidak mengakuinya. Malah Islam menetapkan/mengakui bahwa semua manusia itu satu keluarga, Tuhannya ialah Allah s.w.t. Dalam hal ini Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

Semua makhluk itu keluarga Allah, maka mereka yang paling disenangi Allah ialah yang paling bermanfaat untuk keluarga-Nya. — Riwayat Al-Bazar.

Dan do’a Rasulullah s.a.w.:

Ya Tuhanku! Tuhan yang mengurus segala sesuatu dan Yang Memilikinya! Aku bersaksi bahwa hamba-hamba itu semuanya bersaudara. — Riwayat Ahmad dan Abu Dawud.

Jadi, Islam itu berpandangan internasional dan tidak mengakui adanya garis-garis pemisah dan perbedaan-perbedaan seperti pada zaman jahiliyah. Islam menginginkan adanya kesatuan seluruh kemanusiaan di bawah satu bendera, dan dalam dunia yang telah dirusak dengan persaingan-persaingan dan permusuhan-permusuhan kebangsaan ini Islam merupakan tuntunan hidup dan harapan kebahagiaan di hari yang akan datang.

Keenam: Stabil dan Berkembang

Justice Cardoza dengan tegas menyatakan: “Kebutuhan terbesar zaman kita sekarang adalah satu falsafah yang bisa menengahi antara tuntutan-tuntutan yang saling bertentangan mengenai stabilitas dan kemajuan dan memenuhi prinsip perkembangan.” Islam memberikan satu ideologi yang memuaskan tuntutan-tuntutan stabilitas dan perkembangan/perubahan sekaligus.

Kenyataan membuktikan bahwa memang hidup itu tidak semata-mata stabil dalam arti tidak berkembang, tidak pula berkembang dan berubah secara keseluruhan. Sebab soal-soal pokok kehidupan itu tetap, akan tetapi cara-cara penyelesaian dan tehnik penanganannya berbeda-beda, sesuai dengan perkembangan zaman. Islam menjamin kedua hal itu berjalan secara teratur. Al-Qur’an dan Sunnah mengandung petunjuk-petunjuk abadi dari Tuhan Rabul’alamin, Tuhan yang tidak dibatasi oleh zaman dan tempat memberi petunjuk-petunjuk yang bertalian dengan kepentingan perorangan maupun yang bertalian dengan masyarakat, sesuai sepenuhnya dengan alam yang diciptakan Allah s.w.t. Dengan demikian maka petunjuk-petunjuk itu bersifat azali dan abadi (kekal). Akan tetapi Tuhan hanya merumuskan dasar-dasar dan pokok-pokoknya, sedangkan manusia diberi kebebasan untuk melaksanakannya sesuai dengan perkembangan zaman yang berbeda-beda, jiwa dan kondisinya. Untuk itu manusia melakukan ijtihad yang dilakukan oleh tokoh-tokoh ahli setiap zaman, untuk menerapkan petunjuk-petunjuk Tuhan dalam menghadapi segala bentuk kehidupan pada zamannya.

Jadi dasar dan pokok ajaran itu tetap tidak berubah, hanya cara-cara pelaksanaannya mungkin berubah, sesuai dengan kebutuhan hidup pada setiap zaman. Itulah rahasianya, mengapa Islam itu tetap segar dan modern, sesuai dengan perkembangan zaman yang mana dan kapanpun.

Ketujuh: Ajaran-ajaran Terpelihara dari Perubahan.

Dan akhirnya, masih ada satu rahasia penting, ialah bahwa ajaran-ajaran Islam dalam Al-Qur’an tetap atas dasar dan nash-nya yang semula sebagaimana yang diturunkan Allah, Tuhan semesta alam.

Manusia tetap memperoleh petunjuk-petunjuk di dalamnya, sebagai yang dikehendaki Allah, tanpa perubahan atau pergantian sedikitpun. Al-Qur’an tetap sebagaimana yang diturunkan Allah dan tetap berada di tengah-tengah kita, hampir 14 abad lamanya. Kalimat Allah tetap kalimat Allah, dalam bentuknya yang semula. Dan keterangan terperinci tentang kehidupan Nabi Islam dan ajaran-ajarannya telah dikenal berabad-abad dalam bentuknya yang orisinal. Hal itu diakui oleh para kritikus non Muslim. Profesor Reynold A. Nicholson dalam bukunya “Literary History of the Arabs” menyatakan:

“Al-Qur’an adalah suatu dokumen kemanusiaan yang luar biasa, menerangkan setiap phase hubungan Muhammad dengan segala kejadian yang dihadapinya selama hidupnya, sehingga kita mendapat bahan yang unik dan tahan uji keasliannya, sehingga kita dapat mengikuti perkembangan Islam sejak permulaannya sampai sekarang. Semua itu tidak ada bandingannya dalam agama-agama Buddha atau Kristen, maupun dalam agama-agama lainnya.” (hal. 413).

Semua itu hanyalah sebahagian saja dari tanda-tanda yang dengan jelas dan kuat menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna bagi kemanusiaan, dahulu, sekarang dan di kemudian hari. Segi-segi itulah yang telah menarik beratus-ratus juta ummat manusia ke dalamnya. Mereka semua yakin bahwa Islam adalah agama yang hak dan benar, jalan hidup yang lurus yang seharusnya dilalui oleh manusia. Hal itu akan tetap menarik mereka di waktu-waktu yang akan datang. Manusia dengan jiwanya yang bersih dan ikhlas mencari kebenaran, akan selalu mengucapkan:

AKU BERSAKSI BAHWA TIDAK ADA YANG PATUT DISEMBAH KECUALI ALLAH YANG SATU DAN TIDAK ADA YANG MENYEKUTUINYA DAN AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH HAMBANYA DAN UTUSAN-NYA.

Berikut ini adalah keterangan dan kesan-kesan beberapa tokoh ahli pikir dan cendekiawan terkemuka mengenai sejarah keimanannya kepada Islam.

Catatan kaki:

1 Allah telah mengundangkan Agama buat kamu, seperti apa yang Dia wasiatkan kepada Nuh dan yang Aku wahyukan kepadamu (Muhammad), dan yang Aku wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa, bahwa hendaklah kamu tegakkan Agama dan janganlah kamu bercerai-berai di dalamnya. (Asy-Syura. 13)

2 Francies Mason. (Fd) “The Great Design,” Duckworth, London.

3 George Bernard Shaw dalam The Genuine Islam, Singapure, Vol. 1, No. 8. 1936. Pada waktu terjemahan Indonesia ini sedang dikerjakan justru di London sedang berlangsung pameran kebudayaan Islam, dan dibuka oleh Ratu Elisabeth II sendiri.

4 Nabi Muhammad saw.

Posted by Fahmi at 15:30:51 | Permalink | No Comments »

Kerja dan Amal

Sudah saatnya kita menempatkan apa yang kita kerjakan saat ini sebagai ibadah. Sebab dalam kerangka semacam itu, hati kita bisa tenang, tenteram dan tak akan merasa berat ketika mendapatkan masalah kerja. Menempatkan kerja dalam kerangka ibadah berarti kita harus memahami pula bahwa apa yang kita kerjakan adalah jihad.

Sebab, selama ini, pemahaman tentang jihad yang berkembang adalah pemahaman membela Islam. Padahal, dengan menghidupi keluarga atau sanak kerabat dekatpun sebenarnya kita telah membela Islam.

Dalam hal kerja keras inilah diriwayatkan bahwa Rasulullah sangat menghargai mereka yang memelihara harga dirinya dengan enggan meminta-minta. Meski kita “bersimbah peluh, berkuah keringat” - kata-kata yang sering diujarkan oleh Aa Gym, sapaan akrab KH Abdullah Gymnastiar - semuanya adalah amal dan akan dicatat diperbendaharaan-Nya.

Ini berarti tak ada pekerjaan yang sia-sia buat seorang Muslim jikalau ia menempatkannya dalam kerangka ibadah atau jihad apalagi itu untuk mengangkat harkat dan martabat orang-orang di sekitarnya.

Kalaupun kerja seseorang itu mendapatkan kegagalan, itu pun bukan berarti ia gagal total. Bisa jadi itulah saat ia harus menyiapkan rencana yang jauh lebih matang agar apa yang ia kerjakan bermanfaat bagi dunia dan berguna buat akhirat kelak.n mns/mqp

Prinsip Kerja Hati

Bila hati kian bersih, pikiranpun selalu jernih,
semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih,
tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk,
akhlakpun kian terpuruk, dia jadi makhluk terkutuk.

Bila hati kian lapang, hidup susah tetap senang,
walau kesulitan menghadang, dihadapi dengan tenang,
tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit,
seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit.

Bagi yang sering mengikuti pengajian manajemen qolbu di manapun, tampaknya syair yang sering disenandungkan oleh Aa Gym ini terdengar sudah biasa. Padahal sebenarnya terkandung prinsip kerja hati yang sangat dalam.

Bukankah aktivitas kita sehari-hari lebih banyak menyulut aktivitas emosi yang kadang muaranya berasal dari hati. Melalui senandung ini, Aa Gym tengah berbagi pada kita bagaimana seharusnya kita menata hati di segala kesempatan.

Posted by Fahmi at 15:25:49 | Permalink | No Comments »

Tetap Lancar Walaupun Hujan

 Sebuah Pelajaran dari Batako Tunas Karya

“Segala sesuatu ada hikmahnya.” Demikian kata orang bijak. Problem yang muncul, di samping mendatangkan musibah, juga kerap kali mendatangkan kebaikan. Karena, sebuah masalah merupakan tantangan dan menuntut jawaban. Tuntutan tersebut walhasil kerap kali melahirkan kreativitas dalam memandang sesuatu dengan cara baru sebagai jawabannya. Keluar dari penjara rutinitas dan memulai dengan cara baru. Demikianlah yang dialami oleh pembuat batako dari Cimahi ini.

Berawal dari krisis moneter tahun 1997, Saerodji (43 tahun) salah seorang buruh/kuli percetakan keluar dari tempat kerjanya, karena penghasilannya yang kurang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk mengisi waktu luangnya, ia kemudian memberanikan diri membuka warung kelontong dan alat-alat tulis. Tetapi karena dari usaha itu belum juga menampakkan hasil yang cukup menggembirakan, maka dimulailah pada awal tahun 1999 usaha pembuatan batako.

Dengan modal awal sebesar Rp 5 juta, dibelilah tanah seharga Rp 3,5 juta. Selebihnya, dipergunakan untuk membeli peralatan yang dibutuhkan. Pada awal usahanya ini, ia hanya mempekerjakan dua orang. Seorang untuk pembuatan batako dan seorang lagi untuk mengangkut pemesanan batako ke konsumen.

Menurutnya, masalah yang dihadapi sekarang ini ialah mengenai pemasaran dan dana. Untuk pemasarannya ia belum memiliki armada yang cukup memadai dan hanya mengandalkan gerobak dorong. Jangkauan pemasarannya masih daerah sekitarnya dan belum bisa mencakup pangsa pasar yang lebih luas lagi. Produksinya per hari baru mencapai 500 batako.

Untuk membayar dua orang karyawannya tersebut, ia harus mengeluarkan biaya untuk yang membuat batako sebesar Rp 55 per batako, sedangkan untuk pendorong gerobak Rp 50 per batako. Adapun harga batako itu sendiri ialah Rp 325/batako. Batako ini dibuat dengan bahan dasar berupa kapur, pasir, dan semen.

Rumus yang biasa digunakan ialah empat truk pasir dan satu ton kapur kembang. Dengan bahan tersebut dapat dihasilkan sebanyak 8.000 batako. Sedangkan semen digunakan apabila ada pesanan dari konsumen.

Proses pengeringan batako tidak menggunakan sinar matahari secara langsung, tetapi cukup diangin-anginkan saja.
Bila kena sinar matahari secara langsung, batako akan banyak yang pecah sehingga akan merugikan perusahaan. Berbeda hasilnya apabila batako tersebut hanya diangin-anginkan saja. Batako akan lebih kuat dan tidak banyak yang pecah, sehingga akan menguntungkan perusahaan. Pengeringan ini membutuhkan waktu selama dua minggu, setelah itu baru bisa dipasarkan.

Walaupun perusahaan ini terbilang masih kecil dan sederhana, namun dapat meraih keuntungan bersih sebesar Rp 1,5 juta per bulan. Pembuatan batako dengan merek TK (Tunas Karya) ini beralamat di Babakan Kidul, Cibubur Tengah, Cimahi RT 01/RW 4. Salah satu perbedaan batako dengan bata merah ialah dalam proses pembuatannya. Batako tidak perlu dibakar, sehingga walaupun musim hujan produksi dapat terus berjalan dengan lancar.

Posted by Fahmi at 15:15:36 | Permalink | No Comments »