Sunday, July 30, 2006

Tetap Lancar Walaupun Hujan

 Sebuah Pelajaran dari Batako Tunas Karya

“Segala sesuatu ada hikmahnya.” Demikian kata orang bijak. Problem yang muncul, di samping mendatangkan musibah, juga kerap kali mendatangkan kebaikan. Karena, sebuah masalah merupakan tantangan dan menuntut jawaban. Tuntutan tersebut walhasil kerap kali melahirkan kreativitas dalam memandang sesuatu dengan cara baru sebagai jawabannya. Keluar dari penjara rutinitas dan memulai dengan cara baru. Demikianlah yang dialami oleh pembuat batako dari Cimahi ini.

Berawal dari krisis moneter tahun 1997, Saerodji (43 tahun) salah seorang buruh/kuli percetakan keluar dari tempat kerjanya, karena penghasilannya yang kurang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk mengisi waktu luangnya, ia kemudian memberanikan diri membuka warung kelontong dan alat-alat tulis. Tetapi karena dari usaha itu belum juga menampakkan hasil yang cukup menggembirakan, maka dimulailah pada awal tahun 1999 usaha pembuatan batako.

Dengan modal awal sebesar Rp 5 juta, dibelilah tanah seharga Rp 3,5 juta. Selebihnya, dipergunakan untuk membeli peralatan yang dibutuhkan. Pada awal usahanya ini, ia hanya mempekerjakan dua orang. Seorang untuk pembuatan batako dan seorang lagi untuk mengangkut pemesanan batako ke konsumen.

Menurutnya, masalah yang dihadapi sekarang ini ialah mengenai pemasaran dan dana. Untuk pemasarannya ia belum memiliki armada yang cukup memadai dan hanya mengandalkan gerobak dorong. Jangkauan pemasarannya masih daerah sekitarnya dan belum bisa mencakup pangsa pasar yang lebih luas lagi. Produksinya per hari baru mencapai 500 batako.

Untuk membayar dua orang karyawannya tersebut, ia harus mengeluarkan biaya untuk yang membuat batako sebesar Rp 55 per batako, sedangkan untuk pendorong gerobak Rp 50 per batako. Adapun harga batako itu sendiri ialah Rp 325/batako. Batako ini dibuat dengan bahan dasar berupa kapur, pasir, dan semen.

Rumus yang biasa digunakan ialah empat truk pasir dan satu ton kapur kembang. Dengan bahan tersebut dapat dihasilkan sebanyak 8.000 batako. Sedangkan semen digunakan apabila ada pesanan dari konsumen.

Proses pengeringan batako tidak menggunakan sinar matahari secara langsung, tetapi cukup diangin-anginkan saja.
Bila kena sinar matahari secara langsung, batako akan banyak yang pecah sehingga akan merugikan perusahaan. Berbeda hasilnya apabila batako tersebut hanya diangin-anginkan saja. Batako akan lebih kuat dan tidak banyak yang pecah, sehingga akan menguntungkan perusahaan. Pengeringan ini membutuhkan waktu selama dua minggu, setelah itu baru bisa dipasarkan.

Walaupun perusahaan ini terbilang masih kecil dan sederhana, namun dapat meraih keuntungan bersih sebesar Rp 1,5 juta per bulan. Pembuatan batako dengan merek TK (Tunas Karya) ini beralamat di Babakan Kidul, Cibubur Tengah, Cimahi RT 01/RW 4. Salah satu perbedaan batako dengan bata merah ialah dalam proses pembuatannya. Batako tidak perlu dibakar, sehingga walaupun musim hujan produksi dapat terus berjalan dengan lancar.

Posted by Fahmi at 15:15:36
Comments

Leave a Reply