Wednesday, August 16, 2006

Hidup Penuh Kekaguman

Bayangkan sebuah peristiwa yang biasa dialami seorang anak kecil. Suatu ketika anak itu melihat seekor ulat bulu yang meliuk-liuk menuju tempat daun segar makanannya. Mata anak itu membelalak. Ia mengulurkan tangannya dan berusaha menyentuh punggung ulat berbulu tersebut dengan jarinya. Namun, tiba-tiba ia tersentak. Jarinya terasa gatal. Ia mencoba sekali lagi, dan kali ini seputar jari telunjuknya terasa tersengat. Ulat itu melingkar di jari telunjuknya dan dari enam belas kaki ulat tadi terasa isapan-isapan. Anak itu tertawa keras sambil mengamati sebagian ciptaan Tuhan yang tak pernah dibayangkannya. Ia terpesona, takjub, dan dipenuhi rasa kagum.

Hal-hal seperti ini sering dialami seorang anak kecil: Segala sesuatu tampak menakjubkan. Kalau ia melihat seekor ulat yang gemuk berubah menjadi kupu-kupu yang berwarna kuning cerah ia akan terpukau, terpesona, dan seolah-olah terhisap.

Kemudian terjadilah perubahan dalam hidup. Anak itu bertambah besar, berkembang menjadi dewasa, dan barangkali sekarang menginjak beberapa ulat yang dulu ia kagumi. Inilah yang sering kita alami. Keajaiban kupu-kupu tak lagi menarik perhatian kita. Segalanya tampak biasa-biasa saja. Kalau itu yang terjadi, kita perlu waspada karena sesuatu yang hakiki mungkin telah hilang dari diri kita.

Mengapa ”penglihatan” kita berbeda dari anak-anak? Ada tiga hal yang mungkin terjadi. Pertama, berbeda dari anak-anak, kita cenderung melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Kita pun sering mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Anda mungkin sarapan pagi sambil membaca koran dan menonton televisi. Anda menyetir mobil sambil menjawab telepon. Anda berbicara dengan bawahan sambil mengetik di komputer.

Akibatnya Anda tak sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi. Anda jarang benar-benar ada di sini saat ini untuk menikmati dan menyadari segala sesuatu. Lebih parah lagi, Anda cenderung digerakkan dari luar, bukannya dari dalam diri Anda sendiri.

Untuk bisa menikmati keajaiban Anda justru harus memperlambat irama hidup Anda. Jangan lupa, manusia bukanlah human doing yang terus menerus melakukan pekerjaan. Kita adalah human being. Ini hanya akan terjadi kalau kita hidup dengan irama yang lebih pelan. Hidup seperti ini jauh lebih efektif, lebih berseni sekaligus lebih kaya. Hidup lebih pelan memberikan kita waktu untuk berhenti, berpikir, merenung, dan memutuskan sesuatu dengan penuh kesadaran. Kesadaran inilah pintu untuk melihat keajaiban.

Kedua, kita kurang menghargai hal-hal kecil. Kita cenderung memikirkan hal-hal yang kita anggap ”besar.” Padahal alam semesta ini didesain dari hal-hal kecil yang sangat rinci dan kompleks. Eknath Easwaran, seorang guru meditasi, mengatakan bahwa keajaiban Tuhan memiliki dimensi yang unik, yaitu ”lebih kecil dari yang paling kecil dan lebih besar dari yang paling besar.” Coba perhatikan serangga dan hewan-hewan kecil lainnya. Lihatlah jutaan planet dan galaksi di alam raya. Coba perhatikan susunan tubuh kita sendiri. Anda akan merasa takjub dan kagum luar biasa.

Kalau kita menghargai setiap hal yang kita jumpai kita akan menikmati keajaiban yang tiada habis-habisnya. Anda akan senantiasa mendengar suara Tuhan pada setiap nafas yang berhembus, pada desir angin yang berbisik.

Ketiga, dan ini lebih serius lagi, anak-anak mampu menangkap keindahan karena mereka masih jernih, otentik, dan bersih. Mereka masih sangat dekat dengan jiwa sejati kita.

Sewaktu kecil kita betul-betul merupakan makhluk spiritual. Pada saat itu kebutuhan jasmani kita amat terbatas. Kita hanya mengonsumsi benda-benda sebatas kebutuhan kita. Namun, semakin dewasa kebutuhan kita semakin banyak. Yang lebih parah lagi, kita telah mencampuradukkan kebutuhan dengan keinginan. Kebutuhan kita sebetulnya terbatas, tapi keinginan tak ada batasnya. Bahkan, setelah sebuah keinginan terpenuhi, keinginan yang lain pun segera bermunculan.

Masalahnya, semakin kita memperturutkan keinginan, semakin jauhlah kita dari diri kita yang asli. Keinginan selalu mengajak kita meninggalkan diri sejati menuju ego. Padahal ego inilah akar dari segala permasalahan yang kita hadapi. Semakin kita mendekati ego, semakin kita akan kehilangan kontak dengan jiwa sejati kita. Ini biasanya ditandai dengan keadaan depresi, mudah marah, masalah lambung, dan tekanan darah tinggi.

Satu-satunya cara untuk mengatasi hal itu adalah dengan kembali mendekati jiwa sejati kita. Inilah yang akan melahirkan ketentraman sejati. Diri sejati sebenarnya berada sangat dekat, bahkan lebih dekat dari tubuh kita sendiri. Inilah sebenarnya akar dari semua keberadaan kita. Di sini lah kita akan menemukan solusi dari setiap persoalan.

Kalau Anda mendekati diri sejati Anda, setiap momen akan terasa segar, indah, dan menakjubkan. Lebih dari itu, perasaan-perasaan takjub ini akan melahirkan satu hal: perasaan rindu untuk bertemu dengan Yang Maha Indah. Kita sadar sepenuhnya bahwa tak ada sesuatu pun yang diciptakan-Nya dengan sia-sia.

Kepemimpinan
Oleh: Arvan Pradiansyah, penulis buku Life is Beautiful e-mail: kepemimpinan@republika.co.id
faksimile: 021-7983623

Posted by Fahmi at 19:06:31 | Permalink | No Comments »

Orang Beragama atau Orang Baik?

Seorang lelaki berniat untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Seorang nenek yang merasa iba melihat kehidupannya membantunya dengan membuatkan sebuah pondok kecil dan memberinya makan, sehingga lelaki itu dapat beribadah dengan tenang.

Setelah berjalan selama 20 tahun, si nenek ingin melihat kemajuan yang telah dicapai lelaki itu. Ia memutuskan untuk mengujinya dengan seorang wanita cantik. ”Masuklah ke dalam pondok,” katanya kepada wanita itu, ”Peluklah ia dan katakan ‘Apa yang akan kita lakukan sekarang’?”

Maka wanita itu pun masuk ke dalam pondok dan melakukan apa yang disarankan oleh si nenek. Lelaki itu menjadi sangat marah karena tindakan yang tak sopan itu. Ia mengambil sapu dan mengusir wanita itu keluar dari pondoknya.

Ketika wanita itu kembali dan melaporkan apa yang terjadi, si nenek menjadi marah. ”Percuma saya memberi makan orang itu selama 20 tahun,” serunya. ”Ia tidak menunjukkan bahwa ia memahami kebutuhanmu, tidak bersedia untuk membantumu ke luar dari kesalahanmu. Ia tidak perlu menyerah pada nafsu, namun sekurang-kurangnya setelah sekian lama beribadah seharusnya ia memiliki rasa kasih pada sesama.”

Apa yang menarik dari cerita diatas? Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara taat beribadah dengan memiliki budi pekerti yang luhur. Taat beragama ternyata sama sekali tak menjamin perilaku seseorang.

Ada banyak contoh yang dapat kita kemukakan disini. Anda pasti sudah sering mendengar cerita mengenai guru mengaji yang suka memperkosa muridnya. Seorang kawan yang rajin shalat lima waktu baru-baru ini di PHK dari kantornya karena memalsukan dokumen. Seorang kawan yang berjilbab rapih ternyata suka berselingkuh. Kawan yang lain sangat rajin ikut pengajian tapi tak henti-hentinya menyakiti orang lain. Adapula kawan yang berkali-kali menunaikan haji dan umrah tetapi terus melakukan korupsi di kantornya.

Lantas dimana letak kesalahannya? Saya kira persoalan utamanya adalah pada kesalahan cara berpikir. Banyak orang yang memahami agama dalam pengertian ritual dan fiqih belaka. Dalam konsep mereka, beragama berarti melakukan shalat, puasa, zakat, haji dan melagukan (bukannya membaca) Alquran. Padahal esensi beragama bukan disitu. Esensi beragama justru pada budi pekerti yang mulia.

Kedua, agama sering dipahami sebagai serangkaian peraturan dan larangan. Dengan demikian makna agama telah tereduksi sedemikian rupa menjadi kewajiban dan bukan kebutuhan. Agama diajarkan dengan pendekatan hukum (outside-in), bukannya dengan pendekatan kebutuhan dan komitmen (inside-out). Ini menjauhkan agama dari makna sebenarnya yaitu sebagai sebuah sebuah cara hidup (way of life), apalagi cara berpikir (way of thinking).

Agama seharusnya dipahami sebagai sebuah kebutuhan tertinggi manusia. Kita tidak beribadah karena surga dan neraka tetapi karena kita lapar secara rohani. Kita beribadah karena kita menginginkan kesejukan dan kenikmatan batin yang tiada taranya. Kita beribadah karena rindu untuk menyelami jiwa sejati kita dan merasakan kehadiran Tuhan dalam keseharian kita. Kita berbuat baik bukan karena takut tapi karena kita tak ingin melukai diri kita sendiri dengan perbuatan yang jahat.

Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya bersekolah di London dulu. Kali ini berkaitan dengan polisi. Berbeda dengan di Indonesia, bertemu dengan polisi disana akan membuat perasaan kita aman dan tenteram. Bahkan masyarakat Inggris memanggil polisi dengan panggilan kesayangan: Bobby.

Suatu ketika dompet saya yang berisi surat-surat penting dan sejumlah uang hilang. Kemungkinan tertinggal di dalam taksi. Ini tentu membuat saya agak panik, apalagi hal itu terjadi pada hari-hari pertama saya tinggal di London. Tapi setelah memblokir kartu kredit dan sebagainya, sayapun perlahan-lahan melupakan kejadian tersebut. Yang menarik, beberapa hari kemudian, keluarga saya di Jakarta menerima surat dari kepolisian London yang menyatakan bahwa saya dapat mengambil dompet tersebut di kantor kepolisian setempat.

Ketika datang kesana, saya dilayani dengan ramah. Polisi memberikan dompet yang ternyata isinya masih lengkap. Ia juga memberikan kuitansi resmi berisi biaya yang harus saya bayar sekitar 2,5 pound. Saking gembiranya, saya memberikan selembar uang 5 pound sambil mengatakan, ”Ambil saja kembalinya.” Anehnya, si polisi hanya tersenyum dan memberikan uang kembalinya kepada saya seraya mengatakan bahwa itu bukan haknya. Sebelum saya pergi, ia bahkan meminta saya untuk mengecek dompet itu baik-baik seraya mengatakan bahwa kalau ada barang yang hilang ia bersedia membantu saya untuk menemukannya.

Hakekat keberagamaan sebetulnya adalah berbudi luhur. Karena itu orang yang ”beragama” seharusnya juga menjadi orang yang baik. Itu semua ditunjukkan dengan integritas dan kejujuran yang tinggi serta kemauan untuk menolong dan melayani sesama manusia.

Kepemimpinan
Oleh: Arvan Pradiansyah, direktur pengelola Institute for Leadership & Life Management (ILM) & penulis buku Life is Beautiful
e-mail: arvan@ilm.co.id, kepemimpinan_probis@yahoo.com
faksimile: 021-7983623

Posted by Fahmi at 19:01:03 | Permalink | No Comments »

Wednesday, August 9, 2006

Tugimin, Sepeda Tua, dan Masjid Syuhada

Masjid Syuhada Jogjakarta didirikan awal 1950-an sebagai saksi hidup bagi para syuhada yang tewas selama revolusi kemerdekaan (1945-1949). Lokasinya yang strategis di kawasan Kota Baru memudahkan para pendatang untuk mengenalnya.

Pada zamannya Masjid Syuhada adalah bangunan arsitektur modern, mungkin yang termodern ketika itu di Indonesia. Hampir semua tokoh bangsa generasi awal yang Muslim pernah shalat Jumat di masjid ini, termasuk proklamator Soekarno-Hatta.

Dalam usianya yang lebih dari setengah abad, Masjid Syuhada telah turut memberikan pencerahan kepada sebagian anak bangsa yang pernah belajar di sana, baik di taman kanak-kanak (TK) ataupun di perguruan tinggi yang memang memakai nama masjid itu dan diselenggarakan di lingkungannya. TK-nya cukup terkenal, sekalipun kata orang sedikit terkesan komersial, sebagaimana halnya sekolah-sekolah lain di Indonesia, termasuk tentunya sebagian kecil sekolah yang dikelola Muhammadiyah.

Seorang yang cukup penting posisinya untuk melancarkan kegiatan masjid adalah laki-laki Tugimin Suroharjo (67), yang telah mengabdi (di sini istilah mengabdi, sungguh tepat) di sana sejak 1961, hampir setengah abad yang lalu. Tugasnya di samping mengurus masalah khatib Jumat dan mengantar surat, juga menarik sumbangan donatur, bayar listrik, air, dan telepon. Dia diberi 15 persen dari hasil donasi yang saban bulan terkumpul sekitar Rp 1 juta. Yang “dahsyat” adalah gaji bulanannya, yaitu Rp 95 ribu, entah sudah sejak tahun berapa pengurus mematok jumlah ini. Luar biasa bukan?

Sebagaimana halnya Asrori, si penjaja plastik dan racun tikus (lih Resonansi 9 Mei 2006), Tugimin adalah seorang anak bangsa yang tidak begitu peduli pada angka Rp 95 ribu itu, sebagaimana tidak pedulinya pengurus masjid untuk mempertimbangkannya kembali. Ketika saya tanya nomor telepon pengurus, Tugimin tidak hafal. Di wajahnya terbayang keikhlasan dalam mengabdi untuk kepentingan agama. Tidak terlintas dalam angannya agar santunan bulanannya itu dinaikkan menjadi Rp 200 ribu misalnya.

Tugimin menjalankan tugasnya dengan bantuan sebuah sepeda perempuan tua yang setia menyertainya ke manapun sang tuan bergerak untuk kepentingan masjid. Demikianlah tanggal-tanggal 19-20 Juni dia mencari saya minta kepastian apakah saya dapat mengisi khutbah Jumat akhir Juni ini. Saya tanyakan, “Mengapa takmir tidak kirim SMS saja untuk mengingatkan para khatib?”
Dijawab, “Agar lebih mantap.”

Mendengar jawaban ini, saya hanya berguman, “Masih ada saja manusia tipe ini, di tengah-tengah arus percaturan uang panas yang sering tidak kenal halal-haram ini.” Tentu Tugimin tidak peduli dengan itu semua, karena imbalan yang diterimanya jelas 100 persen halalan thaiyyiban.

Tetapi, Anda tak perlu larut dalam rasa iba terhadap nasib Tugimin. Dia adalah pensiunan pegawai daerah dengan penerimaan Rp 825 ribu per bulan. Istri satu, anak lima, cucu tujuh, dua bekerja pada perusahaan elektronik di Pulau Bintan. Dengan bangga Tugimin bercerita bahwa anaknya pada 2001 pernah memintanya berkunjung ke pulau itu dengan naik pesawat dari Jakarta ke Batam, dan dari Batam dengan perahu mesin. Kemudian Bintan-Jawa dengan menompang kapal laut, demi penghematan, katanya, sekalipun tentu lebih lama dalam perjalanan. Bagi seorang Tugimin, wong cilik, naik pesawat terbang dan kapal laut masih dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Lebih dari sekali dia mengucapkan ‘alhamdulillah’ untuk mengenang perjalanannya itu, lima tahun yang lalu.

Tugimin Suroharjo, kelahiran Desa Poncosari (Bantul), 18 Maret 1939, kini menetap di Desa Soragan, Ngestiharjo, masih dalam Kabupaten Bantul, yang kini masih dalam suasana berkabung akibat pukulan gempa 57 detik tanggal 27 Mei yang lalu itu. Rumahnya juga rusak, tetapi tidak parah. Sewaktu saya tanya, apakah sudah ada yang menawari untuk naik haji, jawabannya datar, “Belum ada panggilan Allah.” Tidak dijawab misalnya, “tidak ada tawaran itu”. Dua formula ungkapan yang berlainan dari sisi rasa dan substansi. Itulah Tugimin, sahabat kita, yang fungsinya ibarat pentil sepeda bagi Masjid Syuhada.

(Ahmad Syafii Maarif ,Resonansi REPUBLIKA)

Posted by Fahmi at 14:50:26 | Permalink | Comments (6)

Monday, August 7, 2006

Jika Anak Kita Berada di Qana

 Oleh : Zaim Uchrowi (Resonansi Republika)

Qana hanyalah sebuah titik kecil di Lebanon. Ia bukan Beirut, kota Arab yang paling ‘Barat’ itu. Bukan pula Tyre atau Sidon, ujung dari jalur perdagangan puluhan abad dari Cina hingga Laut Tengah yang dikenal sebagai Jalur Sutra. Tapi, di peralihan abad 20-21 ini, Qana telah menjadi potret yang menunjukkan bahwa dunia ternyata tidak berubah. Dunia, di era modern ini, ternyata tidak lebih beradab dibanding masa-masa sebelumnya. Dunia masih seperti semula: menjadi ajang kesewenangan mereka yang sangat berkuasa.

April 1996. Bom-bom Zionis telah menghujani Qana hingga remuk dan terbakar. Jangan tanyakan kondisi tubuh manusia. Apalagi bocah. Sebuah kejadian yang seharusnya tidak akan pernah ada lagi dalam sejarah umat manusia. Namun di Qana, tragedi itu berulang. Kini, 10 tahun kemudian, Qana kembali rata kembali dengn tanah. Bocah-bocah yang semestinya menyambut musim panas ini dengan riang, harus terkubur oleh reruntuhan beton atau malah terpanggang oleh bom. Tubuh puluhan bocah tercabik-cabik atau tertekuk kaku hanya dalam waktu sekejap.

Sebuah foto dari Halabja-Irak Utara, di akhir 1980-an, sempat menyentakkan dunia. Foto itu memperlihatkan seorang bocah dalam gendongan ayahnya yang tewas karena gas dari bom yang dijatuhkan rezim Saddam. Masyarakat dunia tercekat. Bagaimana kalau anak itu anak kita? Bagaimana perasaan kita melihat bocah dengan mata jernih tanpa dosa itu harus tewas karena keganasan orang-orang berkuasa?

Di Qana, kini, kita dapat melihat puluhan anak yang mengalami nasib seperti itu. Mereka semestinya bisa menikmati libur sekolah di bawah matahari seharian. Mereka dapat berlari-larian, bersepeda, main bola, atau menikmati permainan anak lainnya. Namun, bom telah membuat mereka harus meregang nyawa di usianya yang masih sangat belia. Bagaimana jika anak-anak itu adalah anak kita? Bisakah kita melupakan celoteh atau polah tingkahnya yang membuat dunia ini menjadi herwarna?

Kita mungkin berharap Bush atau Condi punya perasaan serupa. Yakni, perasaan untuk menyayangi setiap anak manusia apapun latar belakangnya. Keberadaan anak-anak di seputar kita akan mudah menumbuhkan perasaan demikian. Apalagi bila banyak kesempatan berinteraksi dengan mereka.

Kesempatan itu yang tak mereka miliki. Kalaupun memilikinya, mereka pun tak peduli. Kejumawaan sebagai penguasa dunia telah menutup mata hatinya. Beda dengan Ehud Olmert. Ia sebenarnya sering bermain dengan anak-anak. Para cucunya. Tapi apa pedulinya ia dengan anak-anak yang bukan anak-anak Israel? Apa pedulinya pula bila bom-bomnya mencabik-cabik tubuh bocah-bocah itu?

Qana akan terus menyimpan cerita keji itu, sebagaimana kisah ketidakberdayaan kita yang mencoba setia menggenggam nilai-nilai kemanusiaan. Di bawah bayang-bayang kekejian itu, serta dalam cengkeraman ketidakadilan dunia, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Demonstrasi dan aksi massa tak membuat mereka beringsut. Kita hanya bisa berdoa, meskipun kita tahu itulah selemah-lemah iman. Kita juga tak dapat mengumbar marah. Selain tak berarti apa-apa, pilihan itu juga hanya akan menperjelas kelemahan diri sendiri.

Namun, apa yang terjadi di Qana harus tidak pernah terjadi lagi. Anak-anak harus mendapatkan haknya untuk dapat tumbuh riang dan sehat. Di manapun mereka berada di sekujur bumi ini. Setiap anak perlu berkesempatan menjadi dewasa, hingga ia dapat bertanggung jawab atas setiap langkahnya sendiri.

Untuk itu kita tak cukup berdoa. Kita harus mentransformasi diri untuk secara bersama membangun pribadi dan bangsa yang tangguh. Kita harus bertekad menjadi bangsa yang benar-benar kuat melalui pendidikan, ekonomi, serta penguasaan teknologi tinggi. Hanya dengan menjadi kuat, kita tak dapat mencegah segala bentuk kesewenangan dan kebiadaban seperti yang sekarang terjadi. Hanya dengan menjadi kuat kita mampu tidak hanya berdoa, melainkan juga bisa melindungi anak-anak di seluruh dunia secara nyata dari kejahatan seperti yang terjadi di Qana.

Jika anak-anak kita berada di Qana dan tercabik serta terpanggang oleh bom-bom itu, mungkin kita baru akan percaya: betapa penting orang baik menjadi kuat.

Posted by Fahmi at 14:54:38 | Permalink | No Comments »