Jika Anak Kita Berada di Qana
Oleh : Zaim Uchrowi (Resonansi Republika)
Qana hanyalah sebuah titik kecil di Lebanon. Ia bukan Beirut, kota Arab yang paling ‘Barat’ itu. Bukan pula Tyre atau Sidon, ujung dari jalur perdagangan puluhan abad dari Cina hingga Laut Tengah yang dikenal sebagai Jalur Sutra. Tapi, di peralihan abad 20-21 ini, Qana telah menjadi potret yang menunjukkan bahwa dunia ternyata tidak berubah. Dunia, di era modern ini, ternyata tidak lebih beradab dibanding masa-masa sebelumnya. Dunia masih seperti semula: menjadi ajang kesewenangan mereka yang sangat berkuasa.
April 1996. Bom-bom Zionis telah menghujani Qana hingga remuk dan terbakar. Jangan tanyakan kondisi tubuh manusia. Apalagi bocah. Sebuah kejadian yang seharusnya tidak akan pernah ada lagi dalam sejarah umat manusia. Namun di Qana, tragedi itu berulang. Kini, 10 tahun kemudian, Qana kembali rata kembali dengn tanah. Bocah-bocah yang semestinya menyambut musim panas ini dengan riang, harus terkubur oleh reruntuhan beton atau malah terpanggang oleh bom. Tubuh puluhan bocah tercabik-cabik atau tertekuk kaku hanya dalam waktu sekejap.
Sebuah foto dari Halabja-Irak Utara, di akhir 1980-an, sempat menyentakkan dunia. Foto itu memperlihatkan seorang bocah dalam gendongan ayahnya yang tewas karena gas dari bom yang dijatuhkan rezim Saddam. Masyarakat dunia tercekat. Bagaimana kalau anak itu anak kita? Bagaimana perasaan kita melihat bocah dengan mata jernih tanpa dosa itu harus tewas karena keganasan orang-orang berkuasa?
Di Qana, kini, kita dapat melihat puluhan anak yang mengalami nasib seperti itu. Mereka semestinya bisa menikmati libur sekolah di bawah matahari seharian. Mereka dapat berlari-larian, bersepeda, main bola, atau menikmati permainan anak lainnya. Namun, bom telah membuat mereka harus meregang nyawa di usianya yang masih sangat belia. Bagaimana jika anak-anak itu adalah anak kita? Bisakah kita melupakan celoteh atau polah tingkahnya yang membuat dunia ini menjadi herwarna?
Kita mungkin berharap Bush atau Condi punya perasaan serupa. Yakni, perasaan untuk menyayangi setiap anak manusia apapun latar belakangnya. Keberadaan anak-anak di seputar kita akan mudah menumbuhkan perasaan demikian. Apalagi bila banyak kesempatan berinteraksi dengan mereka.
Kesempatan itu yang tak mereka miliki. Kalaupun memilikinya, mereka pun tak peduli. Kejumawaan sebagai penguasa dunia telah menutup mata hatinya. Beda dengan Ehud Olmert. Ia sebenarnya sering bermain dengan anak-anak. Para cucunya. Tapi apa pedulinya ia dengan anak-anak yang bukan anak-anak Israel? Apa pedulinya pula bila bom-bomnya mencabik-cabik tubuh bocah-bocah itu?
Qana akan terus menyimpan cerita keji itu, sebagaimana kisah ketidakberdayaan kita yang mencoba setia menggenggam nilai-nilai kemanusiaan. Di bawah bayang-bayang kekejian itu, serta dalam cengkeraman ketidakadilan dunia, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Demonstrasi dan aksi massa tak membuat mereka beringsut. Kita hanya bisa berdoa, meskipun kita tahu itulah selemah-lemah iman. Kita juga tak dapat mengumbar marah. Selain tak berarti apa-apa, pilihan itu juga hanya akan menperjelas kelemahan diri sendiri.
Namun, apa yang terjadi di Qana harus tidak pernah terjadi lagi. Anak-anak harus mendapatkan haknya untuk dapat tumbuh riang dan sehat. Di manapun mereka berada di sekujur bumi ini. Setiap anak perlu berkesempatan menjadi dewasa, hingga ia dapat bertanggung jawab atas setiap langkahnya sendiri.
Untuk itu kita tak cukup berdoa. Kita harus mentransformasi diri untuk secara bersama membangun pribadi dan bangsa yang tangguh. Kita harus bertekad menjadi bangsa yang benar-benar kuat melalui pendidikan, ekonomi, serta penguasaan teknologi tinggi. Hanya dengan menjadi kuat, kita tak dapat mencegah segala bentuk kesewenangan dan kebiadaban seperti yang sekarang terjadi. Hanya dengan menjadi kuat kita mampu tidak hanya berdoa, melainkan juga bisa melindungi anak-anak di seluruh dunia secara nyata dari kejahatan seperti yang terjadi di Qana.
Jika anak-anak kita berada di Qana dan tercabik serta terpanggang oleh bom-bom itu, mungkin kita baru akan percaya: betapa penting orang baik menjadi kuat.