Wednesday, August 9, 2006

Tugimin, Sepeda Tua, dan Masjid Syuhada

Masjid Syuhada Jogjakarta didirikan awal 1950-an sebagai saksi hidup bagi para syuhada yang tewas selama revolusi kemerdekaan (1945-1949). Lokasinya yang strategis di kawasan Kota Baru memudahkan para pendatang untuk mengenalnya.

Pada zamannya Masjid Syuhada adalah bangunan arsitektur modern, mungkin yang termodern ketika itu di Indonesia. Hampir semua tokoh bangsa generasi awal yang Muslim pernah shalat Jumat di masjid ini, termasuk proklamator Soekarno-Hatta.

Dalam usianya yang lebih dari setengah abad, Masjid Syuhada telah turut memberikan pencerahan kepada sebagian anak bangsa yang pernah belajar di sana, baik di taman kanak-kanak (TK) ataupun di perguruan tinggi yang memang memakai nama masjid itu dan diselenggarakan di lingkungannya. TK-nya cukup terkenal, sekalipun kata orang sedikit terkesan komersial, sebagaimana halnya sekolah-sekolah lain di Indonesia, termasuk tentunya sebagian kecil sekolah yang dikelola Muhammadiyah.

Seorang yang cukup penting posisinya untuk melancarkan kegiatan masjid adalah laki-laki Tugimin Suroharjo (67), yang telah mengabdi (di sini istilah mengabdi, sungguh tepat) di sana sejak 1961, hampir setengah abad yang lalu. Tugasnya di samping mengurus masalah khatib Jumat dan mengantar surat, juga menarik sumbangan donatur, bayar listrik, air, dan telepon. Dia diberi 15 persen dari hasil donasi yang saban bulan terkumpul sekitar Rp 1 juta. Yang “dahsyat” adalah gaji bulanannya, yaitu Rp 95 ribu, entah sudah sejak tahun berapa pengurus mematok jumlah ini. Luar biasa bukan?

Sebagaimana halnya Asrori, si penjaja plastik dan racun tikus (lih Resonansi 9 Mei 2006), Tugimin adalah seorang anak bangsa yang tidak begitu peduli pada angka Rp 95 ribu itu, sebagaimana tidak pedulinya pengurus masjid untuk mempertimbangkannya kembali. Ketika saya tanya nomor telepon pengurus, Tugimin tidak hafal. Di wajahnya terbayang keikhlasan dalam mengabdi untuk kepentingan agama. Tidak terlintas dalam angannya agar santunan bulanannya itu dinaikkan menjadi Rp 200 ribu misalnya.

Tugimin menjalankan tugasnya dengan bantuan sebuah sepeda perempuan tua yang setia menyertainya ke manapun sang tuan bergerak untuk kepentingan masjid. Demikianlah tanggal-tanggal 19-20 Juni dia mencari saya minta kepastian apakah saya dapat mengisi khutbah Jumat akhir Juni ini. Saya tanyakan, “Mengapa takmir tidak kirim SMS saja untuk mengingatkan para khatib?”
Dijawab, “Agar lebih mantap.”

Mendengar jawaban ini, saya hanya berguman, “Masih ada saja manusia tipe ini, di tengah-tengah arus percaturan uang panas yang sering tidak kenal halal-haram ini.” Tentu Tugimin tidak peduli dengan itu semua, karena imbalan yang diterimanya jelas 100 persen halalan thaiyyiban.

Tetapi, Anda tak perlu larut dalam rasa iba terhadap nasib Tugimin. Dia adalah pensiunan pegawai daerah dengan penerimaan Rp 825 ribu per bulan. Istri satu, anak lima, cucu tujuh, dua bekerja pada perusahaan elektronik di Pulau Bintan. Dengan bangga Tugimin bercerita bahwa anaknya pada 2001 pernah memintanya berkunjung ke pulau itu dengan naik pesawat dari Jakarta ke Batam, dan dari Batam dengan perahu mesin. Kemudian Bintan-Jawa dengan menompang kapal laut, demi penghematan, katanya, sekalipun tentu lebih lama dalam perjalanan. Bagi seorang Tugimin, wong cilik, naik pesawat terbang dan kapal laut masih dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Lebih dari sekali dia mengucapkan ‘alhamdulillah’ untuk mengenang perjalanannya itu, lima tahun yang lalu.

Tugimin Suroharjo, kelahiran Desa Poncosari (Bantul), 18 Maret 1939, kini menetap di Desa Soragan, Ngestiharjo, masih dalam Kabupaten Bantul, yang kini masih dalam suasana berkabung akibat pukulan gempa 57 detik tanggal 27 Mei yang lalu itu. Rumahnya juga rusak, tetapi tidak parah. Sewaktu saya tanya, apakah sudah ada yang menawari untuk naik haji, jawabannya datar, “Belum ada panggilan Allah.” Tidak dijawab misalnya, “tidak ada tawaran itu”. Dua formula ungkapan yang berlainan dari sisi rasa dan substansi. Itulah Tugimin, sahabat kita, yang fungsinya ibarat pentil sepeda bagi Masjid Syuhada.

(Ahmad Syafii Maarif ,Resonansi REPUBLIKA)

Posted by Fahmi in 14:50:26
Comments

6 Responses

  1. Adib S Siraj says:

    Assalamualaikum w w
    Tawaran kursus privat bikin web masih berlaku nggak?
    Bila masih tolong hubungi saya di 0274 523408 atau 08156861941
    Atas perhatian dan tanggapannya saya ucapkan terima kasih.
    Wassalamualaikum w w

  2. Seharusnya dari masjid syuhada sndiri yang menghajikan pak min, pak syafi’i memang tidak tahu siapa dan berapa istrinya pak min, mungkin saja selama ini pak min hanya mengatakan jujur kepada pak syafi’i tentang satu istrinya, syuhada masjid besar yang kesannya komersil adalah benar, sekolah dibangun dengan biaya/ uang sekolah yang sangat besar, ngapain buat sekolah kalau menambah data sekolah mahal, sekolah di masjid syuhada bisa laku karena nama besar masjid dan tentunya menjual fasilitas kepada khalayak ramai, masjid syuhada bukan masjid yang ideal di kota jogjakarta, banyak contoh masjid yang konkrit membantu mesyarakat sekitar misalnya masjid pogung raya dan masjid jogokariyan yang memiliki data base seluruh warga berikut dengan penghasilannya selama sebulan, konkrit dan dibutuhkan oleh masyarakat menengah kebawah dan ditambah dengan managemen yang profesional di dalamnya , ada laporan keuangan masjid secara detail setiap jumatnnya tidak seperti masjid syuhada yang katanya besar itu, ingat anda belum lahir ketika pak min dan pak syafi’i bertemu di masjid syuhada, jangan pernah mengatakan nad lebih faham tentang masjid syuhada karena masjid syuhada dipantau banyak orang dan bukan anda yang saya juga masih bertanya-tanya tentang kealumnian di asarama putra berdasarkan data yang ssya peroleh dari salah satu anak asrama masjid syuhada yang masih aktif, thank’s, kalau mau klarifikasi bisa telp. ke 411293 ketemu kepala kentor atau bisa melalui media massa buat surat tanggapan tentang tulisan itu, ingat disana banyak orang kaya seperti suanrdi syahuri yang setiap bulan ramadhan pergi mrmbswa KBIHnya di tanah suci dan banyak lagi, massk untuk menaikkan haji pak min aja gak bisa, pak min masih mencari dana dan butuh sekitar 6 jutaan lagi, coba kita liat, apa yang bisa dibuat oleh masjid syuhada, minta-minta lagi kemasyarakat kemudian dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk kapitalisme masjd yang modern atau bagaimana, selamat mencoba msjid syuhada>>>>>>

  3. siip, bagus saya sepakat

  4. Syafi'i Institute (Nogotirto II/846, Yogyakarta) says:

    Mohon maaf kepada pemilik situs dan pembaca sekalian, kami atas nama Syafii Institute (SI) tidak pernah merasa menulis komentar diatas. Kami, badan pengurus SI, senantiasa meminta persetujuan Buya Prof. Ahmad Syafii Maarif setiap kali akan melakukan publisitas dalam bentuk apapun, termasuk dalam menanggapi berbagai surat maupun komentar yang ditujukan kepada kami.

    Terimakasih kepada Sdr. Fahmi Hasan atas konfirmasi dan kunjungannya kepada kami (Sabtu, 31 Maret 2007). Atas nama Buya kami mohon maaf jika pada tulisan Buya di REPUBLIKA ada yang berkesan kurang nyaman bagi segenap keluarga aktivis masjid syuhada. Tidak ada maksud Buya kearah sana. Bahkan Buya juga menyampaikan kepada kami bahwa beliau juga anggota dewan penyantun di yayasan masjid syuhada, sehingga tidak mungkin Buya bermaksud merusak citra masjid syuhada hanya karena beliau kurang tahu perkembangan yayasan syuhada akibat jarang hadir di masjid syuhada.

  5. nofri says:

    nama saya Nofri Pedi,saya lahir di sisawah kecamatan sumpur kudus,saya cucu dari siti dayung.saat ini saya mengikuti pelajaran di sma pgri2 padang,dgn cari biaya sendiri…dan saya ingin sekali bertemu dgn pak safii maarif..sekali lagi saya cucu siti dayung…bagi yang mau menolong saya,kirim saja ke email saya;nofri_pedi@yahoo.co.id..atau nmr telpon 081374499178 dan bisa juga di 08197572189 terima kasih.

  6. nofri says:

    saya kecewa dengan hukum di negeri ini,kenapa tidak? di lapaz saja narapidana masih bisa transaksi nakoba ratusan juta bahkan sampai milyaran rupiah,memangnya polisi disana apa saja kerjanya,maen,nongkrong saja,makan gaji buta saja.

    kemudian si al amin nasution salah seorang anggota dewan yang tidak bermoral,dia yang seharusnya jadi panutan masyarakat malah memberikan contoh yang tidak berpendidikan,dasar penghianat bangsa,andaikan saja saya yang jadi orang nomor satu dinegeri ini bakal saya berantas yang namanya suap,korupsi,walaupun nyawa saya taruhannya,di kala bangsa ini berduka,banyak terjadi bencana,disana sini orang kelaparan sedangkan dia seenaknya saja makan uang rakyat,sungguh sama dengan binatang kelakuannya.

Leave a Reply